Sebuah survei di Inggris menemukan bahwa hampir sepertiga pengemudi dari kelompok usia muda mengaku selalu membutuhkan bantuan navigasi berbasis GPS saat berkendara. Survei tersebut dilakukan oleh Carmoola terhadap sekitar 2.000 responden di Inggris, dengan pertanyaan seputar preferensi penggunaan sistem navigasi satelit ketika mengemudi.
Hasilnya menunjukkan bahwa generasi lebih muda cenderung lebih mengandalkan aplikasi navigasi, bahkan untuk rute yang sudah dikenal atau perjalanan singkat. Dalam temuan survei, 28% pengemudi berusia 25–34 tahun menyatakan selalu menggunakan sistem navigasi satelit setiap kali mengemudi. Sementara itu, 20% responden pada kelompok usia yang sama mengatakan mereka memakai navigasi untuk perjalanan singkat, seperti pergi ke supermarket.
Berbeda dengan kelompok usia muda, pengemudi yang lebih tua dilaporkan lebih percaya diri berkendara tanpa arahan aplikasi. Sekitar dua dari sepuluh pengemudi berusia di atas 45 tahun disebut menggunakan aplikasi navigasi untuk setiap perjalanan. Selain itu, 15% responden pada kelompok usia tersebut menyatakan jarang menggunakan navigasi sama sekali.
Carmoola juga menanyakan respons pengemudi jika perangkat navigasi kehilangan sinyal. Sebanyak 57% pengemudi berusia 55–64 tahun mengatakan mereka akan mengandalkan rambu-rambu jalan dan penanda lokasi. Pada kelompok usia 25–34 tahun, angka yang menyatakan akan melakukan hal serupa tercatat 44%, sedangkan 25% mengatakan mereka akan berhenti dan bertanya arah.
CEO sekaligus pendiri Carmoola, Aidan Rushby, menilai kebiasaan ini menunjukkan ekspektasi pengemudi modern terhadap pengalaman berkendara yang serba terbantu teknologi. Ia mengatakan navigasi telah menjadi hal yang wajar karena menghilangkan hambatan, dan harapan serupa terlihat dalam keseluruhan pengalaman berkendara.
Di sisi lain, artikel tersebut juga menyinggung penelitian lain dari University College London yang menyoroti potensi dampak penggunaan GPS terhadap aktivitas otak. Studi itu melibatkan 24 responden yang diminta menavigasi simulasi komputer wilayah Soho di pusat kota London, sementara aktivitas otak mereka dipindai.
Penelitian tersebut berfokus pada dua area otak, yakni hipokampus yang berperan dalam pembentukan memori serta korteks prefrontal. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika responden mencari jalan dengan mengandalkan kemampuan sendiri, terjadi lonjakan aktivitas di kedua area tersebut, terutama saat memasuki jalan baru dan ketika menghadapi jaringan jalan yang berkelok-kelok. Namun, ketika responden mengikuti instruksi dari perangkat GPS atau aplikasi ponsel, otak tidak menunjukkan aktivitas tambahan.
Seorang profesor neurosains kognitif di University College London menyatakan bahwa ketika teknologi memberi arahan ke mana harus pergi, bagian-bagian otak tersebut tidak merespons jaringan jalan, sehingga otak cenderung kehilangan minat terhadap lingkungan jalanan di sekitar.