Layanan internet satelit Starlink diperkirakan akan menghadapi tantangan untuk bersaing langsung dengan penyedia jaringan di Vietnam, terutama di wilayah perkotaan yang sudah memiliki banyak pilihan koneksi dengan harga terjangkau. Otoritas telekomunikasi menilai, keunggulan Starlink lebih relevan untuk area yang sulit dijangkau infrastruktur kabel.
Berdasarkan ketentuan lisensi, fase uji coba Starlink di Vietnam berlangsung selama lima tahun dan harus berakhir sebelum 2031. Dalam periode tersebut, jumlah pelanggan dibatasi maksimal 600.000.
Pejabat terkait, Nguyen Anh Cuong, menegaskan bahwa setelah memperoleh lisensi, Starlink wajib mematuhi penuh hukum dan peraturan Vietnam, termasuk ketentuan mengenai manajemen harga dan persaingan, sebagaimana diberlakukan kepada bisnis telekomunikasi lainnya. Departemen Telekomunikasi saat ini memantau ketat penyebaran infrastruktur dan pertumbuhan pelanggan Starlink. Proses operasional juga akan terus diawasi untuk menyesuaikan kebijakan secara cepat dan mencegah gangguan pasar.
Berbeda dari layanan internet tradisional yang mengandalkan kabel serat optik atau jaringan terestrial, Starlink mengirimkan sinyal langsung dari satelit ke perangkat penerima pengguna. Untuk mengakses layanan, pelanggan perlu membeli perangkat terminal yang mencakup antena parabola, router Wi-Fi, dan catu daya.
Dari sisi biaya, harga Starlink diproyeksikan sekitar 85 dolar AS per bulan atau sekitar 2,2 juta VND, dengan tambahan biaya perangkat awal sekitar 350 dolar AS atau sekitar 9 juta VND. Sebagai perbandingan, tarif internet fiber optik di Vietnam saat ini berada pada kisaran 180.000–500.000 VND per bulan, dengan kecepatan 150 Mbps hingga 1 Gbps. Dengan demikian, biaya Starlink diperkirakan sekitar 7–10 kali lebih tinggi dibanding layanan fiber optik.
Selain internet kabel, Vietnam juga memiliki infrastruktur seluler yang berkembang pesat. Jaringan 4G disebut telah mencakup hampir seluruh wilayah negara, sementara 5G tengah diterapkan di kota-kota besar. Paket data seluler dinilai cukup terjangkau sehingga memudahkan akses internet bagi pengguna.
Meski sulit bersaing di perkotaan, Otoritas Telekomunikasi menilai internet satelit masih berpotensi unggul di wilayah yang pemasangan serat optik sulit dilakukan atau membutuhkan investasi tinggi. Area tersebut antara lain daerah pegunungan, pulau, kawasan berpenduduk jarang, lokasi terpencil, serta kebutuhan operasi lepas pantai.