BERITA TERKINI
Sony Tablet P (2011), Konsep Perangkat Lipat yang Datang Terlalu Dini

Sony Tablet P (2011), Konsep Perangkat Lipat yang Datang Terlalu Dini

Tren ponsel lipat atau foldable kini kerap disebut sebagai salah satu puncak inovasi smartphone modern. Namun, jauh sebelum perangkat lipat populer seperti sekarang, Sony pernah menghadirkan gagasan serupa lewat sebuah produk yang dirilis pada 2011, yakni Sony Tablet P.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari akun Facebook Jejak Teknologi, Sony Tablet P mengusung desain dua layar berukuran 5,5 inci yang dapat dilipat menyerupai dompet. Pada masanya, bentuk ini tampak tidak lazim, tetapi Sony membawa visi penggunaan yang menekankan kemampuan multitasking.

Konsep desain Sony Tablet P disebut terinspirasi dari Sony Vaio P, laptop mini yang dikenal ringkas dan unik. Dengan dua layar, Sony merancang skenario penggunaan ganda: layar atas untuk menonton video, sementara layar bawah berfungsi sebagai panel kontrol atau navigasi saat menjelajah. Pola ini mengingatkan pada konsep split screen yang kemudian populer di perangkat masa kini.

Meski idenya terbilang maju, Sony Tablet P tidak berkembang luas. Salah satu penyebabnya adalah persoalan waktu peluncuran. Pada 2011, ekosistem aplikasi Android dinilai belum siap mendukung pengalaman dua layar. Akibatnya, sejumlah aplikasi tampil tidak proporsional, bahkan mengalami kesalahan saat dijalankan di perangkat tersebut.

Selain keterbatasan dukungan aplikasi, ada sejumlah faktor lain yang membuat perangkat ini kurang diminati, termasuk di Indonesia. Teknologi layar ganda saat itu membuat biaya produksi tinggi sehingga harga menjadi relatif mahal. Desainnya juga dianggap terlalu berbeda dibanding tablet konvensional yang datar dan lebar, sementara pasar belum terbiasa dengan perangkat lipat yang menuntut adaptasi cara penggunaan.

Kisah Sony Tablet P kerap dipandang sebagai contoh bahwa sebuah inovasi bisa tidak berhasil bukan semata karena kualitasnya, melainkan karena hadir ketika pasar dan ekosistem belum siap. Perangkat ini juga menunjukkan bahwa menjadi yang lebih dulu membawa konsep baru tidak selalu berujung pada kesuksesan komersial.