PT Socfin Indonesia (Socfindo) menyiapkan teknologi laboratorium Deoxyribonucleic Acid (DNA) serta benih unggul kelapa sawit yang diklaim tahan terhadap dampak perubahan iklim untuk dipamerkan dalam Hai Sawit Simposium (HASI) 2026 di Jakarta pada 22–23 April.
Perusahaan perkebunan yang berbasis di Sumatera Utara itu menyatakan keikutsertaannya bertujuan memperkenalkan inovasi riset terbaru kepada ratusan profesional industri sawit. Fokus yang dibawa dalam ajang tersebut diarahkan pada efisiensi produksi serta peningkatan ketahanan tanaman menghadapi cekaman lingkungan ekstrem.
Berdasarkan informasi di laman resmi perusahaan, Socfindo mengelola lebih dari 46.000 hektar area tanam dengan dukungan sekitar 10.000 karyawan. Pengembangan varietas unggul dilakukan melalui fasilitas riset Socfindo Seed Production and Laboratories (SSPL).
Salah satu teknologi yang akan ditampilkan adalah Laboratorium Bio-molekuler atau DNA Lab. Socfindo menyebut telah melakukan validasi terhadap lebih dari 25.000 pohon induk kelapa sawit. Validasi itu dilakukan menggunakan metode capillary electrophoresis untuk memastikan identitas genetik tetua Dura, Pisifera, dan Tenera tetap terjaga.
Perusahaan juga memaparkan penggunaan teknologi Marker Assisted Selection (MAS) yang memungkinkan peneliti mengidentifikasi sifat spesifik tanaman sejak dini. Teknik ini disebut efektif untuk mendeteksi gen ketahanan terhadap penyakit busuk pangkal batang serta karakter kadar lipase rendah.
Dalam HASI 2026, Socfindo berencana menonjolkan beberapa keunggulan teknis, termasuk varietas DxP MT Gano yang disebut memiliki toleransi tinggi terhadap infeksi jamur Ganoderma. Varietas ini juga diklaim memiliki laju pertumbuhan vertikal batang sekitar 40–50 sentimeter per tahun, masa produktivitas yang dapat melampaui 25 tahun, serta ketahanan terhadap defisit air di area marjinal yang terdampak perubahan iklim.
Socfindo menilai karakter pertumbuhan batang yang lebih lambat dapat memperpanjang siklus panen sekaligus menunda waktu peremajaan tanaman, sehingga berpotensi menekan biaya operasional jangka panjang bagi pemilik perkebunan.
Selain pengembangan kelapa sawit, SSPL juga mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk tanaman karet (Hevea brasiliensis). Socfindo menyebut kerja sama dengan lembaga riset internasional seperti CIRAD dan Universitas Ghent turut memperkuat posisi fasilitas tersebut.
Partisipasi dalam HASI 2026 juga akan dimanfaatkan untuk mendemonstrasikan hasil uji lapangan varietas unggul. Pengunjung simposium disebut dapat mempelajari mekanisme seleksi benih yang menghasilkan rata-rata produksi tandan buah segar hingga 30 ton per hektar per tahun.
Aspek ketertelusuran (traceability) turut menjadi materi yang akan dipaparkan. Socfindo menyatakan seluruh produknya telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).
Dalam pameran tersebut, Socfindo juga menyiapkan informasi mengenai produk dan layanan, termasuk benih unggul varietas DxP LaMe dan DxP Yangambi, bibit siap tanam berumur tiga bulan dengan label biru resmi, serta layanan pengujian sampel tanah dan daun melalui laboratorium yang terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).
Melalui keikutsertaan di simposium, Socfindo menargetkan penguatan kolaborasi teknologi antara praktisi lapangan dan peneliti, sekaligus memperkenalkan pemanfaatan inovasi laboratorium DNA untuk menjawab tantangan teknis perkebunan modern.