BERITA TERKINI
Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H Bertepatan Nyepi, Kemenag Bali Jelaskan Akses Informasi bagi Muslim

Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H Bertepatan Nyepi, Kemenag Bali Jelaskan Akses Informasi bagi Muslim

Denpasar — Kementerian Agama (Kemenag) dijadwalkan menggelar sidang isbat penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026. Di Bali, tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Suci Nyepi, ketika akses internet dan siaran televisi dinonaktifkan selama 24 jam.

Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana umat Muslim di Bali dapat memperoleh informasi terkait hasil sidang isbat. Kantor Wilayah Kemenag Bali menyatakan belum ada mekanisme resmi yang ditetapkan untuk penyampaian hasil sidang isbat pada saat Nyepi.

Pelaksana Tugas (Plt) Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kemenag Bali, Syarif Hidayatullah, mengatakan ia menerima informasi bahwa beberapa jaringan internet saat Nyepi masih dapat digunakan meski tidak maksimal. Menurutnya, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengakses pemberitaan daring.

Selain itu, Syarif menyebut pengurus masjid atau tokoh agama dapat saling bertukar informasi melalui grup aplikasi pesan cepat yang mereka miliki. Ia mencontohkan jejaring komunikasi takmir masjid yang biasanya terhubung lintas daerah.

“Cuma biasanya grup-grup takmir masjid itu terhubung itu ada yang se-Indonesia, se-provinsi, biasanya kalau ada hasil melalui itu sih melalui grup, cuma secara resminya kami belum tahu,” kata Syarif, Rabu (18/3/2026). Ia menyebut jaringan komunikasi tersebut umumnya terhubung melalui Dewan Masjid Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), terutama Dewan Masjid Indonesia.

Karena belum ada mekanisme resmi dari Kemenag terkait penyampaian hasil sidang isbat saat Nyepi, Syarif menyarankan masyarakat menyiapkan alternatif masing-masing untuk memperoleh informasi.

Syarif juga menjelaskan bahwa Ramadan umumnya berjumlah 29 hari. Dengan demikian, ia menyebut hari terakhir Ramadan jatuh pada 19 Maret 2026. Ia menambahkan, bagi Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab, takbiran dipastikan dilakukan.

Adapun bagi warga Nahdlatul Ulama (NU), Syarif menjelaskan bahwa bila 20 Maret belum ditetapkan sebagai 1 Syawal, maka puasa digenapkan menjadi 30 hari sesuai ketentuan yang dipahaminya.