BERITA TERKINI
SDI Nanaenoe di Perbatasan Belu Masih Terkendala Internet, Siswa dan Guru Terpaksa Menumpang Jaringan Warga

SDI Nanaenoe di Perbatasan Belu Masih Terkendala Internet, Siswa dan Guru Terpaksa Menumpang Jaringan Warga

Keterbatasan akses internet masih menjadi persoalan serius bagi dunia pendidikan di wilayah perbatasan. Kondisi itu dirasakan siswa SDI Nanaenoe di Desa Nanaenoe, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, kawasan perbatasan RI–RDTL, yang hingga kini belum memiliki jaringan internet memadai untuk menunjang proses belajar mengajar, terutama saat ujian berbasis online.

Salah satu siswa, Maria Marsi Nae, mengatakan dirinya bersama teman sekelas harus berjalan kaki dan menumpang di rumah warga yang memiliki jaringan internet stabil agar dapat mengikuti ujian berbasis online. Ia berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kebutuhan internet di wilayah perbatasan, mengingat pembelajaran kini semakin bergantung pada teknologi.

“Kami ingin seperti teman-teman yang lain, bisa belajar menggunakan jaringan internet dengan mudah, terutama saat ujian kami tidak perlu jalan kaki dan pergi ke rumah-rumah warga, kami juga mau maju dari perbatasan,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan salah satu guru SDI Nanaenoe, Asis. Ia menyebut ketiadaan jaringan internet memaksa guru dan siswa mencari alternatif agar anak-anak tetap bisa mengikuti ujian berbasis online, salah satunya dengan berjalan kaki untuk menumpang akses internet di rumah warga.

Asis mencontohkan situasi yang dihadapi sekolah saat pelaksanaan simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi 14 siswa SDI Nanaenoe yang akan mengikuti ujian TKA tahun ajaran 2025/2026 pada April mendatang. Menurutnya, tanpa jaringan internet, efektivitas pembelajaran terganggu, terutama ketika sistem pendidikan semakin mengandalkan teknologi.

Ia juga menilai ketimpangan akses internet berisiko membuat anak-anak di wilayah perbatasan tertinggal. “Kami sangat berharap, adanya perhatian pemerintah agar jaringan internet dapat menyentuh kami yang berada di pelosok, karena anak-anak sangat membutuhkannya,” kata Asis, Selasa (17/3/2026).

Selain akses internet, warga dan sekolah juga menghadapi kendala komunikasi melalui panggilan telepon. Hal itu disebut dipengaruhi dominasi jaringan negara tetangga, Timor Leste, yakni Telemor.