Samsung menilai kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mengubah peran televisi dari perangkat pasif untuk menonton konten menjadi perangkat yang dapat berinteraksi dengan pengguna. Menurut perusahaan, AI memungkinkan TV memahami kebiasaan, kebutuhan, hingga konteks penggunaan, bukan hanya menampilkan gambar dan suara.
Pandangan tersebut disampaikan jajaran pimpinan Samsung Visual Display Business dalam sesi tanya jawab dengan media internasional di sela acara The First Look di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Kevin Lee, Executive Vice President of the Customer Experience Team at the Visual Display (VD) Business of Samsung Electronics, mengatakan televisi dan layar visual tengah bergerak menuju tahap interaksi yang lebih langsung dengan pengguna.
Samsung juga menyoroti tantangan yang kerap dihadapi konsumen saat ini, yakni banyaknya teknologi layar dan istilah teknis yang dapat membingungkan ketika memilih produk. Dalam konteks ini, AI dipandang berperan untuk menyederhanakan pengalaman, sehingga pengguna dapat menikmati manfaat fitur TV tanpa harus memahami spesifikasi dan terminologi teknis yang rumit.
Dari sisi strategi produk, Samsung menyebut segmen TV premium akan difokuskan pada teknologi Micro RGB sebagai lini flagship. Sementara Mini LED diposisikan sebagai opsi premium dengan harga yang lebih terjangkau, dan OLED tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari portofolio TV kelas atas Samsung.
Sejalan dengan itu, Samsung menekankan pendekatan komunikasi kepada konsumen ke depan tidak lagi bertumpu pada angka atau spesifikasi semata. Perusahaan menyatakan akan lebih menonjolkan pengalaman penggunaan sehari-hari, misalnya saat menonton pertandingan olahraga, bermain gim, atau menikmati konten bersama keluarga.
Dengan arah tersebut, Samsung meyakini TV di era AI tidak lagi hanya menjadi layar untuk hiburan, melainkan perangkat yang memahami penggunanya dan berpotensi menjadi pusat interaksi di lingkungan rumah pintar yang semakin terhubung.