BERITA TERKINI
Sam Altman Peringatkan Risiko Superintelligence, Desak AS Siapkan Aturan dan Kolaborasi

Sam Altman Peringatkan Risiko Superintelligence, Desak AS Siapkan Aturan dan Kolaborasi

CEO OpenAI Sam Altman memperingatkan para pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) agar segera mengambil langkah nyata dalam menyambut era kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut atau superintelligence. Menurut Altman, perkembangan AI kini bukan lagi sebatas teori atau uji coba laboratorium, melainkan telah bergerak cepat menjadi pendorong utama ekonomi sehari-hari.

Altman menilai AS perlu bersiap menghadapi dua sisi revolusi AI: peluang keuntungan yang sangat besar sekaligus risiko bencana yang mengintai. Ia menggambarkan bagaimana sistem AI yang semakin canggih sudah mampu mengambil alih pekerjaan seperti pemrograman dan riset yang sebelumnya memerlukan satu tim penuh. Ke depan, generasi model AI terbaru disebut akan membawa lompatan lebih jauh.

“AI akan membantu para ilmuwan membuat penemuan-penemuan besar, dan memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh kelompok berskala besar,” kata Altman, seperti dikutip dari kanal YouTube Axios.

Ia juga menyinggung perubahan dinamika ketenagakerjaan yang mulai terlihat. Menurut Altman, cara kerja seorang programer pada 2026 sudah berbeda dibanding tahun sebelumnya. Pada akhirnya, AI diproyeksikan bertransformasi menjadi utilitas atau kebutuhan pokok layaknya aliran listrik.

“Anda akan memiliki asisten super personal yang berjalan di cloud,” ujar Altman. Ia menambahkan, sistem langganan AI dapat bersifat fleksibel: semakin sering atau semakin tinggi tingkat kecerdasan AI yang digunakan, semakin besar tagihan bulanan, dan sebaliknya.

Di sisi lain, Altman menekankan bahwa pengembangan superintelligence bukan sekadar inovasi bisnis, melainkan juga pertarungan geopolitik. Ia menilai penting bagi AS untuk lebih dulu berhasil membangun teknologi tersebut sebelum didahului negara rival.

Meski demikian, Altman menolak gagasan nasionalisasi, yakni pengambilalihan proyek AI sepenuhnya oleh pemerintah. “Argumen terkuat melawan nasionalisasi adalah bahwa ini kemungkinan besar tidak akan berhasil jika dijalankan sebagai proyek pemerintah, dan itu akan menjadi hal yang menyedihkan,” ujarnya. Sebagai alternatif, Altman mendorong kolaborasi antara perusahaan swasta pengembang AI dan pemerintah AS.

Altman juga membunyikan alarm terkait potensi penyalahgunaan AI tingkat tinggi, termasuk untuk mempercepat eksperimen biologis berbahaya. “Kita tidak lagi jauh dari dunia di mana model open-source memiliki kemampuan luar biasa di bidang biologi,” tegasnya. Ia menyebut ancaman kelompok teroris yang memanfaatkan AI untuk meracik patogen baru kini menjadi risiko nyata, bukan sekadar kemungkinan teoretis.

Di sektor keamanan siber, ancaman serupa disebut sudah terlihat. Charles Guillemet, CTO perusahaan hardware wallet kripto Ledger, menyatakan AI telah mengubah keseimbangan sehingga lebih “berpihak” kepada peretas. AI dinilai memudahkan upaya mengeksploitasi celah aplikasi perangkat lunak, membuat pekerjaan peretasan rumit yang dulu memakan waktu berbulan-bulan kini dapat dilakukan dalam hitungan detik.

Dampaknya, industri kripto dilaporkan mengalami kerugian hingga 1,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 24 triliun) akibat pencurian siber pada tahun lalu. Dengan potensi serangan siber berskala global yang bisa terjadi bahkan pada tahun ini, Altman menilai pencegahan skenario terburuk memerlukan upaya dan koordinasi lintas sektor yang luar biasa.

“Sangat penting memastikan bahwa orang-orang yang membangun AI ini adalah mereka yang memiliki integritas tinggi dan dapat dipercaya,” pungkas Altman.