Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tanjungpura (LPPM Untan) melakukan riset inovasi pengelolaan perkebunan kelapa sawit rendah emisi karbon melalui pengaturan tinggi muka air tanah di lahan gambut.
Penelitian ini diarahkan untuk menemukan kedalaman muka air tanah yang dapat membantu memitigasi pelepasan karbon ke atmosfer, sekaligus menjaga produktivitas tanaman agar tetap tumbuh optimal dan berkelanjutan.
Berdasarkan keterangan yang dimuat di laman Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) pada Minggu (29/03/2026), riset hibah Grant Sawit K15 tersebut melibatkan enam peneliti ahli. Tim dipimpin Dr. Ir. Dwi Astiani, M.Sc., bersama lima akademisi lainnya.
Dalam ekosistem gambut, pembangunan kanal secara teknis dimaksudkan untuk menyediakan ruang bagi perakaran kelapa sawit. Namun, pembuatan saluran drainase yang tidak terukur dinilai berisiko mempercepat penurunan permukaan tanah dan memicu peningkatan emisi gas rumah kaca.
Karena itu, penataan tinggi muka air tanah menjadi salah satu kunci untuk meminimalkan dampak lingkungan. Riset ini tidak hanya mengamati kondisi biofisik lahan, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial masyarakat di sekitar wilayah operasional perkebunan.
Tim peneliti menerapkan sejumlah parameter untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh. Di antaranya pengaturan tinggi muka air tanah secara periodik, pengukuran intensitas serangan rayap pada batang tanaman, serta pengamatan keanekaragaman jenis serangga hama lainnya.
Selain aspek hama, penelitian juga menyoroti kesehatan tanaman melalui pemeriksaan penyakit dan aktivitas mikrob rizosfer. Fokus ini mencakup pemantauan jamur mikoriza serta bakteri yang hidup pada zona perakaran kelapa sawit.
Kondisi fisik tanah gambut dan status hara turut menjadi bagian penting dalam observasi. Peneliti memantau perubahan karakteristik tanah akibat fluktuasi air untuk memastikan ketersediaan nutrisi bagi tanaman tetap terjaga.
Interaksi antara tinggi muka air (TMA) dan serangan rayap menjadi salah satu fokus kajian. Pengaturan TMA yang tepat diyakini dapat menekan populasi organisme pengganggu tanaman yang kerap meningkat ketika lahan gambut mengering.
Dampak sosial terhadap masyarakat sekitar perkebunan juga diukur untuk merumuskan konsep pengendalian yang lebih aplikatif. Tim peneliti berupaya menyusun rekomendasi tata kelola yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi perusahaan, kesejahteraan warga, dan kelestarian fungsi ekosistem gambut.
Melalui riset ini, peneliti berharap lahir standar baru bagi industri perkebunan dalam mengelola lahan basah secara lebih bertanggung jawab. Hasil akhirnya ditargetkan merumuskan konsep pengendalian dampak biofisik yang sistematis, sebagai rujukan praktisi perkebunan dalam memitigasi risiko kerusakan lingkungan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan kelapa sawit di masa mendatang.