Jakarta — Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) merilis riset terkait pemanfaatan teknologi hidroproses untuk mengonversi minyak sawit menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) sebagai pengganti avtur berbasis fosil.
Riset tersebut menyoroti langkah pengembangan SAF sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan sektor aviasi global terhadap energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Melalui inovasi ini, minyak sawit mentah dapat diolah menjadi bahan bakar dengan karakteristik teknis yang menyerupai produk berbasis minyak bumi.
Dalam laporan yang dilansir dari laman Palmoilina pada Senin (28/03/2026), teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA) disebut telah diakui secara internasional dan mampu menghasilkan bahan bakar pesawat dengan pengurangan emisi karbon hingga 80 persen.
PASPI menyebut jalur HEFA sebagai salah satu rute paling matang untuk produksi SAF skala komersial. Bahan baku berasal dari minyak nabati, termasuk minyak sawit, yang diproses melalui reaksi hidrogenasi secara intensif.
Proses tersebut menghasilkan hidrokarbon murni yang bebas sulfur dan senyawa aromatik berbahaya. Produk akhirnya juga disebut memiliki densitas energi tinggi sehingga dapat digunakan pada mesin pesawat modern.
Riset itu menguraikan sejumlah keunggulan teknis. Pertama, karakter kimia produk akhir bersifat drop-in fuel, sehingga dapat digunakan tanpa memerlukan modifikasi mesin pesawat maupun infrastruktur pengisian bahan bakar yang telah tersedia di bandara. Kedua, bahan bakar hasil HEFA memiliki stabilitas termal dan ketahanan oksidasi yang baik untuk menjaga performa mesin pada kondisi penerbangan di ketinggian dengan suhu rendah dan ekstrem. Ketiga, teknologi ini memungkinkan pemanfaatan beragam bahan baku turunan sawit, termasuk minyak goreng bekas, guna meminimalkan potensi persaingan dengan sektor pangan serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nabati.
PASPI menilai produksi bioavtur dapat mendukung target dekarbonisasi industri penerbangan sipil internasional yang ditetapkan organisasi penerbangan dunia. Indonesia dinilai memiliki potensi sebagai penyuplai karena ketersediaan bahan baku yang melimpah.
Dari sisi industri, hilirisasi kelapa sawit nasional disebut berpeluang meningkatkan nilai tambah melalui pembangunan kilang khusus. Investasi di sektor ini juga dipandang dapat memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.
Namun, SAF dari sawit tetap harus memenuhi standar kualitas internasional sebelum digunakan secara komersial. Sertifikasi keberlanjutan juga menjadi syarat agar produk dapat diterima maskapai, termasuk untuk pasar Uni Eropa.
Riset tersebut juga mencatat potensi pembukaan lapangan kerja baru di sektor industri kimia dan energi terbarukan. Di sisi lain, kajian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan biaya produksi tetap kompetitif dibanding avtur konvensional.
PASPI menekankan pentingnya integrasi kebijakan pemerintah, dukungan lembaga penelitian, serta keterlibatan pelaku usaha untuk mempercepat produksi massal. Ketersediaan infrastruktur pendukung dinilai akan menentukan laju transisi dari bahan bakar fosil menuju energi hijau berkelanjutan.
Melalui pengembangan produk olahan sawit menjadi SAF, PASPI menilai sektor perkebunan nasional dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan perubahan iklim. Diversifikasi produk turunan minyak sawit mentah disebut menjadi elemen penting bagi arah ekonomi hijau Indonesia.