MAKSI melalui program Riset Grant Sawit K15 mengembangkan inovasi hilirisasi berupa bioplastik yang memanfaatkan selulosa dari limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) sebagai bahan kemasan ramah lingkungan. Inovasi ini ditujukan untuk menjawab persoalan melimpahnya limbah padat perkebunan sekaligus tingginya konsumsi plastik di Indonesia.
Penelitian tersebut dikerjakan oleh tim ahli yang terdiri dari Isroi, A. Cifriadi, T. Panji, K. Syamsu, dan N.A. Wibowo. Mengacu pada informasi dari laman Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang dikutip pada Rabu (08/04/2026), kebutuhan produk plastik di Indonesia mencapai 4,6 juta ton per tahun, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 5% setiap tahun.
TKKS dipilih sebagai bahan baku utama karena mengandung selulosa sekitar 28%. Kandungan ini dinilai memiliki potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Proses pengolahan diawali dengan isolasi selulosa untuk memisahkan serat dari komponen lain. Pada tahap pemurnian, selulosa yang diperoleh dari limbah padat tersebut dilaporkan mencapai tingkat kemurnian hingga 90% dalam skala laboratorium.
Namun, selulosa alami dari limbah sawit tidak bersifat plastis secara alami. Karena itu, tim peneliti melakukan modifikasi struktural melalui oksidasi rantai samping agar material menjadi lebih elastis. Selanjutnya, selulosa termodifikasi dicampurkan dengan bahan tambahan lain, termasuk plastisizer, untuk meningkatkan kualitas dan daya tahan lembaran plastik agar sesuai kebutuhan industri kemasan.
Dalam penelitian ini, kandungan selulosa pada produk bioplastik akhir dibuat bervariasi untuk menilai performa terbaik. Variasi yang diuji meliputi kadar selulosa 12,5%, 25%, 37,5%, 50%, dan 75%.
Hasil riset menghasilkan prototipe bioplastik yang dinyatakan fungsional dan memiliki karakteristik fisik yang kuat. Prototipe tersebut dapat dibentuk menjadi lembaran tipis transparan dan dapat diproses menggunakan alat segel.
MAKSI menyebut inovasi ini menunjukkan bahwa limbah perkebunan dapat diolah menjadi kantong kemasan biodegradable. Penggunaan bioplastik berbasis TKKS dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta menekan penumpukan sampah plastik konvensional yang sulit terurai.
Selain aspek lingkungan, hilirisasi ini juga dipandang sebagai langkah untuk memperkuat struktur ekonomi sektor perkebunan. Pemanfaatan teknologi, termasuk gasifikasi maupun oksidasi pada selulosa TKKS, disebut memperluas portofolio produk turunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Implementasi hasil riset ini juga dikaitkan dengan dukungan terhadap ekonomi sirkular di industri kelapa sawit. Keberhasilan modifikasi selulosa menjadi bioplastik dinilai membuka peluang bisnis baru, termasuk bagi pelaku usaha kecil dan menengah di bidang pengemasan ramah lingkungan.