Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan teknologi produksi sabun kalsium berbasis palm fatty acid distillate (PFAD) untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan peternakan sapi perah. PFAD merupakan produk samping dari proses pemurnian crude palm oil (CPO) yang dimanfaatkan sebagai bahan baku utama suplemen lemak bagi pakan ternak ruminansia.
Riset yang dipimpin Dr. Lienda Handojo itu dilaporkan mampu mendorong kenaikan produksi susu harian dari 17 liter menjadi 18,36 liter per ekor. Peningkatan volume sekitar 8% tersebut berdampak pada kenaikan keuntungan peternak yang tercatat sebesar 7,5% per hari.
Dalam proses pembuatannya, sabun kalsium diproduksi dengan mereaksikan asam lemak bebas dari PFAD menggunakan hidroksida atau oksida kalsium hingga membentuk struktur lemak yang terlindungi untuk sistem pencernaan ruminansia. Pada tahun pertama penelitian, tim menjalankan lima tahapan utama, mulai dari karakterisasi bahan baku, percobaan utama, uji karakteristik produk, hingga komparasi dengan produk komersial yang tersedia di pasar.
Peneliti juga melakukan scale-up produksi hingga kapasitas 5 kilogram pada tahap bench scale untuk memastikan konsistensi kualitas sebelum pengujian lanjutan. Selanjutnya, uji in vivo dilakukan dengan pemberian suplemen 600 gram per ekor per hari guna mengamati respons biologis serta produktivitas sapi perah secara langsung.
Hasil observasi lapangan menunjukkan indikator kesehatan yang lebih baik serta peningkatan fertilitas pada sapi yang mengonsumsi sabun kalsium hasil riset Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITB. Data perbandingan juga menunjukkan performa produk tersebut melampaui produk komersial maupun kelompok kontrol.
Dalam analisis ekonomi penelitian, harga pakan total dengan tambahan suplemen berada pada Rp 46.200. Pendapatan harian per ekor tercatat naik dari Rp 80.750 menjadi Rp 87.210, sementara keuntungan bersih meningkat dari Rp 38.150 menjadi Rp 41.010 per hari.
Keberhasilan produksi pada skala laboratorium dan bench dinilai menjadi langkah penting dalam upaya kemandirian pakan nasional, mengingat PFAD merupakan bahan baku lokal yang melimpah di Indonesia. Teknologi ini juga diposisikan sebagai opsi bagi peternak di wilayah seperti Lembang yang menghadapi tantangan tingginya biaya pakan, dengan mengoptimalkan produksi susu melalui asupan nutrisi berkualitas.
Riset tersebut didukung melalui skema Grant Sawit dan disebut sebagai contoh sinergi antara akademisi dan industri sawit dalam menghasilkan produk hilir yang berdampak pada sektor peternakan.