Peneliti dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (LPPM ITB) mengembangkan teknologi gasifikasi untuk mengonversi limbah padat kelapa sawit menjadi metanol dan dimetil eter (DME). Inovasi ini diberi tajuk Biomass to Liquid (BTL), yang memanfaatkan biomassa sawit sebagai bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar cair.
Pengembangan tersebut diposisikan sebagai bagian dari upaya mendukung program bauran energi nasional. Dalam rujukan yang dimuat di laman BPDP pada Senin (06/04/2026), kontribusi biomassa dalam sumber energi baru terbarukan (EBT) ditargetkan mencapai 25 persen pada 2025, salah satunya melalui pengembangan teknologi konversi bahan bakar cair yang efisien bagi industri.
Riset ini dipimpin Prof. Dr. Heri Susanto bersama Dr. Sunu H. Pranolo dan Jaya Lingga Prasetyo. Tim memfokuskan penelitian pada pengembangan teknik gasifikasi untuk menghasilkan gas sintesis (syngas) yang bersih, sebagai tahap penting sebelum syngas diolah lebih lanjut menjadi metanol maupun DME.
Tujuan utama Riset Grant Sawit K15 adalah mengembangkan komponen teknis yang terintegrasi dalam sistem pengolahan limbah menjadi energi alternatif terbarukan secara berkelanjutan. Sasaran khususnya mencakup penyediaan katalis teruji dan teknik reaksi catalytic tar cracking, konfigurasi gasifier yang sesuai untuk konversi biomassa menjadi biosyngas, serta penyediaan katalis dan teknik reaksi sintesis DME dari biosyngas.
Dalam pengembangan katalis perengkahan tar, tim memanfaatkan zeolit alam dari Wonosari dan Sukabumi. Material lokal tersebut diproses melalui analisis mineral, modifikasi dengan metode pencucian asam, serta kalsinasi. Pengujian aktivitas katalis dilakukan dengan waktu reaksi hingga 30 jam.
Proses gasifikasi biomassa sawit dilakukan menggunakan uap air (steam) dan oksigen (O2) untuk menghasilkan gas sintesis bersih. Syngas ini kemudian menjadi dasar pembentukan metanol maupun DME.
Selain itu, penelitian juga mengembangkan katalis tembaga, seng, dan aluminium oksida (Cu/Zn/Al2O3). Material tersebut dibuat menggunakan metode kopresipitasi yang dikombinasikan dengan sol gel impregnasi ke penyangga untuk menjaga stabilitas termal selama operasi. Tahap teknisnya meliputi karakterisasi katalis untuk mengetahui struktur fisik dan kimia, reduksi agar mencapai fase aktif, serta uji aktivasi dalam reaktor sintesis pada kondisi tertentu.
Teknologi gasifikasi ini diproyeksikan menghasilkan metanol yang dapat digunakan sebagai bahan baku utama produksi biodiesel. Sementara DME dipersiapkan sebagai substitusi parsial untuk Liquefied Petroleum Gas (LPG) pada masa mendatang, dengan tujuan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil secara bertahap.
Penggunaan unit gasifikasi berkapasitas 20 kilogram per jam di Teknik Kimia ITB disebut menunjukkan kemajuan. Penyempurnaan sistem operasional terus dilakukan agar teknologi ini dapat segera diadaptasi oleh pelaku industri sawit.