Riset dasar disebut memegang peran fundamental dalam pengembangan dan penguasaan teknologi strategis. Pengalaman negara-negara terkemuka di bidang sains dan teknologi menunjukkan bahwa teknologi canggih tidak dibangun di atas fondasi sains dasar yang lemah. Terobosan di bidang semikonduktor, kecerdasan buatan, bioteknologi, hingga teknologi kuantum dikaitkan dengan investasi riset dasar yang dilakukan secara sistematis dan jangka panjang.
Bagi Vietnam, peningkatan investasi pada penelitian dasar dinilai penting untuk memperkuat kapasitas sains dan teknologi dalam negeri. Langkah ini dipandang sebagai landasan untuk secara bertahap menguasai teknologi strategis sekaligus meningkatkan daya saing nasional.
Arah tersebut juga ditegaskan dalam Resolusi 57-NQ/TW tertanggal 22 Desember 2024 dari Politbiro tentang terobosan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan transformasi digital nasional. Resolusi itu menyatakan bahwa pengembangan teknologi strategis perlu dikaitkan dengan penguatan kapasitas riset dasar agar Vietnam dapat berpartisipasi lebih dalam dalam rantai nilai teknologi global.
Penelitian dasar tidak hanya dipahami sebagai kajian teoretis, tetapi juga diposisikan sebagai fondasi kemandirian teknologi dan keamanan nasional. Dengan demikian, investasi di bidang ini dinilai berkontribusi pada peningkatan daya saing, kemandirian teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vietnam menjadikan penelitian dasar sebagai salah satu prioritas. Menurut Nguyen Thi Van Nga, Direktur Pusat Data dan Informasi Ilmiah di Akademi tersebut, pelaksanaan riset dasar dalam beberapa periode terakhir berfokus pada jumlah publikasi internasional dan hak kekayaan intelektual, sekaligus membangun landasan hukum bagi aktivitas penerapan lembaga.
Pada 2025, para ilmuwan Akademi menerbitkan 2.437 karya ilmiah, dengan 2.332 di antaranya dimuat di jurnal bergengsi. Jumlah publikasi internasional tercatat 1.699, sementara publikasi pada jurnal internasional berkualitas tinggi—kategori Q1, Q2, atau memiliki indikator seperti IF ≥ 1 dan Citescore—mencapai 1.351.
Jika dihitung untuk periode 2020–2025, publikasi internasional Akademi mencapai 72,6% dari total karya yang diterbitkan. Sejumlah bidang riset dasar disebut mencatat hasil positif, termasuk matematika yang arah penelitiannya dipertahankan dan diperluas di hampir semua bidang khusus.
Pada 2025, peneliti di Institut Matematika menerbitkan 80 artikel di jurnal internasional dan satu artikel di jurnal nasional. Dari jumlah itu, 70 artikel terbit di jurnal yang terindeks SCI-E.
Di bidang fisika, Akademi menjalankan sejumlah proyek tingkat negara, NAFOSTED, dan VINIF. Kualitas riset disebut tercermin dari banyaknya publikasi internasional bereputasi (ISI/Scopus). Proporsi makalah kategori Q1 dan Q2 dinilai cukup tinggi, dengan fokus riset pada bidang-bidang seperti fisika energi dan semikonduktor, fisika teoretis dan fundamental, serta fisika terapan dan lingkungan.
Berangkat dari capaian tersebut, Akademi menyatakan akan memperkuat penelitian dasar dan pengembangan teknologi, sekaligus memperluas bidang riset untuk mengantisipasi tren penelitian dunia. Rencana ini mencakup fokus investasi pada peningkatan laboratorium di area prioritas yang diselaraskan dengan sumber daya manusia, kebutuhan pembangunan, dan standar regional, serta penguatan kelompok riset dan dukungan terhadap arah penelitian baru yang sejalan dengan revolusi industri keempat.
Presiden Akademi, Prof. Dr. Tran Hong Thai, mengatakan bahwa untuk mendorong terobosan dalam efektivitas riset dasar, pihaknya mengusulkan mekanisme anggaran jangka menengah selama 3–5 tahun bagi program sains strategis. Skema itu diusulkan disertai evaluasi per tahap, tidak semata mengikuti tahun fiskal, agar implementasi lebih efektif dalam praktik.
Selain itu, untuk mendorong komersialisasi dan menjadikan riset dasar sebagai sarana pengembangan teknologi strategis, Akademi berencana berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait guna membangun rantai pasokan lengkap, mulai dari penelitian dan perlindungan kekayaan intelektual hingga alih teknologi dan produksi.
Akademi juga berharap mekanisme pemesanan riset dapat bergeser ke arah Negara dan dunia usaha yang lebih proaktif mengidentifikasi persoalan-persoalan utama nasional, lalu menugaskan kelompok riset yang kompeten dengan sumber daya dan waktu yang memadai. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong riset dasar sekaligus menciptakan momentum dan pasar bagi pengembangan teknologi strategis.