Berbagai riset, inovasi teknologi, hingga kerja sama lintas institusi terus dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk menjawab tantangan layanan kesehatan di Indonesia. Sejumlah inisiatif tersebut mencakup pengembangan perangkat medis, penguatan riset farmasi, hingga program pengabdian masyarakat yang menyasar kebutuhan dasar seperti akses air bersih.
Salah satu sorotan datang dari bidang robotika. Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, Ir. Vani Virdyawan, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Ilmu yang Menghidupkan: Peran Soft Robotics dalam Pelayanan Kesehatan bagi Sesama” pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Semester I Tahun Akademik 2025/2026. Ia memaparkan teknologi robot lunak (soft robot), yakni robot berbahan material fleksibel yang dinilai aman digunakan pada lingkungan tidak terstruktur, termasuk di dalam tubuh manusia.
Menurutnya, keunggulan soft robot terletak pada kemampuan beradaptasi terhadap bentuk dan tekstur lingkungan sekitar, sehingga risiko kerusakan jaringan atau cedera pada pasien dapat diminimalkan. Teknologi ini juga dipandang memiliki potensi strategis untuk membantu mengatasi persoalan kesehatan nasional, seperti keterbatasan akses teknologi canggih, ketergantungan pada peralatan impor, serta tantangan pemerataan ketersediaan alat medis di berbagai wilayah.
Di ranah pengabdian masyarakat, ITB mengirimkan bantuan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile untuk mendukung penyediaan air bersih bagi warga terdampak bencana di Kota Langsa, Provinsi Aceh. Keterbatasan akses air bersih dan sarana mandi, cuci, kakus (MCK) disebut menjadi persoalan utama di wilayah terdampak.
Ketua tim, Prof. Dr. Ir. Bagus Budiwantoro dari Kelompok Keahlian Perancangan Teknik dan Produksi FTMD ITB, menjelaskan bahwa IPA Mobile dirancang untuk membantu masyarakat yang belum mendapatkan layanan air bersih, dengan memanfaatkan berbagai sumber air baku seperti sungai, danau, situ, maupun embung. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi 2 liter per detik atau sekitar 7.000 liter per jam. Dalam kondisi normal, layanan ditujukan untuk sekitar 200 kepala keluarga atau setara 800 orang, sementara pada kondisi darurat kapasitas dapat ditingkatkan untuk melayani sekitar 1.200 hingga 1.600 orang.
Dari bidang farmasi, Guru Besar Sekolah Farmasi ITB, Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D., menjelaskan prospek obat herbal sebagai terapi alternatif kanker. Ia menyebut terdapat 10 tanaman yang dinilai berpotensi sebagai pelawan sel kanker berdasarkan kajian ilmiah, yakni tapak dara, taxol, lempuyang wangi, temu kunci, melinjo, daun sirsak, bawang tiwai, keladi tikus, biji anggur, dan propolis.
Ia menyampaikan bahwa bahan-bahan tersebut telah melalui uji senyawa aktif, uji sel, uji hewan, hingga uji pada pasien, dan menunjukkan potensi dalam menekan aktivitas sel kanker.
Upaya mempertemukan riset kampus dengan implementasi industri juga ditunjukkan melalui kolaborasi ITB dengan PT Oneject Indonesia. Dalam kemitraan tersebut, ITB berperan mengembangkan teknologi dan desain fungsional, sementara Oneject menangani implementasi industri, pengendalian kualitas, serta distribusi ke fasilitas kesehatan.
Inovasi yang ditampilkan antara lain konsep diagnostik terpadu yang menggabungkan Urine Analyzer, Chemistry Analyzer, dan Blood Analyzer. Kolaborasi ini juga menghadirkan smart syringe, needle free injector, serta perangkat Surface Plasmon Resonance (SPR) berbasis nano untuk deteksi dini tuberkulosis. Rangkaian inovasi tersebut menggambarkan upaya menuju kemandirian alat kesehatan nasional.
ITB juga memiliki Pusat Teknologi Kesehatan dan Keolahragaan (PTKK) yang berdiri sejak 2007 dan berperan sebagai jembatan antara perguruan tinggi dan industri. PTKK mengembangkan berbagai sistem, perangkat keras, perangkat lunak, serta formula untuk mendukung kemajuan kesehatan masyarakat dan keolahragaan.
PTKK menaruh perhatian pada hilirisasi inovasi hingga tahap uji klinik dan sertifikasi, dengan fokus riset pada biomolecular sensing, bioimaging & image processing, bioinstrumentation, serta bioinformation systems & applications. Pusat ini juga memandang masa depan teknologi kesehatan akan bertumpu pada layanan virtual, analisis big data, dan inovasi yang mempermudah pemeriksaan serta perawatan.
Di tingkat kolaborasi lintas institusi, ITB dan Universitas Padjadjaran membangun kerja sama untuk memperkuat Program Multidisiplin Teknologi Kesehatan bersama Rumah Sakit Universitas Indonesia dan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kolaborasi ini menegaskan kebutuhan pertemuan antara bidang teknik, kedokteran, rumah sakit, dan pendidikan pascasarjana agar hasil rekayasa kesehatan dapat lebih dekat diterapkan di dunia klinis.
Pengakuan terhadap inovasi juga datang melalui penghargaan. Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D., Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, meraih Penghargaan Karya Anak Bangsa Kategori Individu Berprestasi pada Health Innovation Festival (HAIFEST) 2025 yang digelar Kementerian Kesehatan RI. Penghargaan itu diberikan atas kontribusinya dalam mengembangkan desain chip prosesor dalam negeri untuk berbagai alat kesehatan vital.
Chip lokal tersebut telah diimplementasikan pada perangkat elektromedis seperti alat antropometri, patient monitor, ventilator noninvasif, high-flow nasal cannula (HFNC), EKG, hingga infusion pump. Inovasi ini dinilai penting untuk memperkuat kandungan lokal alat kesehatan serta mengurangi ketergantungan pada komponen impor.
Di bidang pengembangan masyarakat, Sekolah Farmasi ITB menjalankan program Desa Mitra Sehat dan Produktif di Desa Tanjungsari, Kabupaten Tasikmalaya, sebagai pengabdian berkelanjutan selama lima tahun. Program ini menargetkan peningkatan gizi untuk menekan stunting serta peningkatan ekonomi masyarakat. Dari sisi kesehatan, kegiatan menekankan pemahaman stunting, aksi pemenuhan gizi, dan pembiasaan gaya hidup sehat guna mencegah penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan hipertensi.
Inovasi juga lahir dari mahasiswa. Tim SGA dari Sekolah Farmasi ITB mengembangkan “Clariskin Nano”, krim nanoemulsi anti jerawat berbahan ekstrak temulawak, pandan, dan serai wangi. Produk tersebut dirancang dengan menggabungkan efektivitas teknologi nanoemulsi dan prinsip keberlanjutan.
Prestasi internasional turut dicapai melalui pendekatan komunikasi kesehatan. Empat mahasiswa Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas ITB yang tergabung dalam Tim Pharmashield meraih juara pada kompetisi IPSF APRO Resonance for Neglected Tropical Disease melalui komik edukasi berjudul “Myths and Maladies: Wunga’s Fight Against Leprosy”.
Penguatan fasilitas riset juga dilakukan melalui kerja sama ITB dengan Daewoong Foundation yang membentuk Joint Research Laboratory bernama Drug Delivery System Research Institute ITB-Daewoong Foundation. Laboratorium ini ditujukan untuk mendukung riset, pengujian, dan pengembangan industri kefarmasian serta kesehatan di Indonesia.
Fasilitas tersebut dilengkapi Dissolution Room untuk mengukur kecepatan dan efisiensi obat terlarut dalam tubuh, serta Analysis Room guna memastikan pengembangan obat sesuai indikator dan standar kualitas. Keberadaannya diharapkan memperkuat jembatan dari tahap penelitian menuju skala produksi yang lebih besar.
Rangkaian riset, inovasi teknologi, kolaborasi industri, serta pengabdian masyarakat tersebut menunjukkan upaya berkelanjutan sivitas akademika ITB dalam menghadirkan sains yang berdampak bagi layanan kesehatan dan kebutuhan publik.