BERITA TERKINI
Riset BRIN Ubah Turunan Minyak Sawit Jadi Alternatif Surfaktan untuk Vaksin Unggas

Riset BRIN Ubah Turunan Minyak Sawit Jadi Alternatif Surfaktan untuk Vaksin Unggas

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama para peneliti senior mengembangkan pemanfaatan senyawa turunan minyak kelapa sawit sebagai alternatif surfaktan dan minyak mineral untuk aplikasi vaksin unggas. Inovasi ini memanfaatkan sifat fisikokimia serta komposisi asam lemak sawit untuk menggantikan bahan baku berbasis minyak bumi yang selama ini banyak digunakan dalam industri farmasi ternak.

Dalam pengujian sintesis Gliserol Mono Oleat (GMO), tim peneliti memperoleh nilai konversi terbaik sebesar 94,52 persen dengan bilangan asam 11 mg/KOH. Hilirisasi riset ini berfokus pada pembuatan senyawa amfipatik—memiliki bagian hidrofilik dan hidrofobik—yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan antara fase minyak dan fase air pada produk vaksin.

Peneliti juga menilai komoditas sawit berpotensi mendorong lahirnya industri hilir baru melalui pengolahan Sorbitol Mono Oleat (SMO) dan GMO sebagai pengganti produk komersial Tween 80 dan Span 80. Bahan baku utama sintesis SMO adalah sorbitol dan asam oleat, sedangkan GMO disintesis dari gliserol dan asam oleat. Untuk optimasi, digunakan katalisator asam sulfat (H2SO4) sebanyak 1 persen.

Proses pembentukan senyawa dilakukan melalui reaksi esterifikasi, yakni pencampuran asam oleat dengan alkohol untuk menghasilkan ester dan air. Dalam tahapan ini, suhu dan waktu reaksi disebut menjadi faktor penentu kualitas produk. Pada pengujian suhu 160 derajat celsius, sintesis SMO menghasilkan nilai konversi hingga 81 persen dengan bilangan asam 36,73 mg/KOH, yang dinyatakan memenuhi standar persyaratan teknis industri farmasi.

Riset tersebut juga menghasilkan formulasi adjuvan vaksin unggas yang stabil, dengan komposisi fase minyak 65 persen, surfaktan 5 persen, dan fase air 30 persen. Fase minyak menggunakan campuran metil oleat dan asam oleat dengan rasio 8:2. Untuk surfaktan, digunakan kombinasi Tween 80 dan GMO dengan rasio 1:9. Viskositas produk akhir tercatat stabil pada 130 centipoise (cP).

Formulasi emulsi itu dilaporkan memiliki ketahanan fisik selama tujuh hari, sebelum diproses kembali dengan mencampurkan antigen vaksin ke dalam fase air untuk menghasilkan produk kesehatan ternak siap pakai. Pemanfaatan turunan sawit ini dinilai membuka peluang bagi penguatan industri kesehatan hewan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan impor berbasis hidrokarbon.

Optimalisasi riset disebut mendapat dukungan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk mempercepat adopsi teknologi tepat guna dan meningkatkan nilai tambah di sepanjang rantai pasok agribisnis di Indonesia.