BERITA TERKINI
Rektor UMS Teken MoA dengan Tiga Industri Korea untuk Perkuat Riset Inovasi Obat dan Pangan

Rektor UMS Teken MoA dengan Tiga Industri Korea untuk Perkuat Riset Inovasi Obat dan Pangan

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum. menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan tiga industri asal Korea Selatan yang bergerak di bidang riset dan inovasi obat serta makanan. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian kegiatan Gebyar Academia, Business, Government (ABG) Collaboration di kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Jakarta.

Kerja sama tersebut disebut sebagai langkah UMS memperkuat jejaring internasional untuk mendorong hilirisasi riset dan meningkatkan kapasitas inovasi di sektor kesehatan. Kolaborasi dengan industri Korea yang memiliki reputasi dalam riset farmasi, bioteknologi, keamanan pangan, serta pengembangan produk kesehatan berbasis teknologi maju diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas penelitian di lingkungan kampus.

Harun menyampaikan kemitraan ini merupakan implementasi pendekatan Triple Helix ABG (Academia, Business, Government) serta Triple Helix Akademisi THT (Teknologi Tepat Guna, Hilirisasi, Komersialisasi). Menurutnya, perguruan tinggi perlu membuka diri terhadap kolaborasi global yang memungkinkan transfer pengetahuan, penguatan metodologi riset, hingga peluang komersialisasi hasil penelitian bersama mitra industri.

“Penandatanganan MoA ini juga menjadi bagian dari upaya UMS untuk memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi riset yang berdaya saing internasional,” ujar Harun, Sabtu (15/11/2025).

Adapun ruang lingkup kerja sama dengan tiga industri Korea tersebut mencakup riset formulasi obat dan bahan baku aktif, pengembangan pangan fungsional dan suplemen kesehatan, inovasi teknologi pengujian keamanan obat dan makanan, peluang hilirisasi dan produksi bersama skala industri, serta pertukaran peneliti dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Kehadiran industri Korea dalam forum di Jakarta itu sejalan dengan upaya BPOM RI yang merangkul 37 industri dari dalam dan luar negeri untuk memperkuat ekosistem inovasi nasional. Penandatanganan MoA oleh UMS menjadi bagian dari kontribusi kalangan akademisi dalam membangun jejaring kolaborasi yang konkret dan berorientasi pada dampak.

Harun juga menekankan pentingnya memastikan kerja sama berjalan terencana dan terukur, tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Ia mendorong pembentukan kelompok kerja (working group) atau konsorsium tematik agar implementasi MoA dapat dikawal secara intensif dan menghasilkan luaran riset yang relevan bagi Indonesia maupun komunitas global.

“Penandatanganan MoA ini menjadi momentum strategis bagi UMS dalam memperluas kemitraan internasional dan memperkuat kontribusi riset perguruan tinggi bagi pembangunan sektor kesehatan nasional melalui inovasi obat dan makanan berbasis teknologi maju,” katanya.