Pemerintah Kota Pariaman menaruh perhatian pada ancaman kecanduan gawai pada anak usia dini. Sebagai upaya antisipasi, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kota Pariaman menggelar lomba kolase tingkat TK se-Kota Pariaman di GOR Rajo Bujang, Karan Aur.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Bunda PAUD Kota Pariaman, Ny. Yosneli Balad. Ajang ini disebut sebagai langkah untuk mengembalikan dunia anak pada aktivitas motorik dan interaksi sosial.
Dalam sambutannya, Yosneli menekankan pentingnya melatih kemampuan motorik anak pada masa emas (golden age). Ia juga menyoroti penggunaan ponsel pintar di kalangan anak-anak yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
“Biarkan anak-anak kita bermain dan berkumpul bersama teman-temannya tanpa HP atau gadget. Efek dari main gadget secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan otak,” ujar Yosneli di hadapan peserta dan wali murid, Jumat (8/5).
Menurutnya, lomba kolase menjadi sarana untuk membangun konsentrasi sekaligus mengembangkan daya imajinasi anak, yang dinilai tidak bisa diperoleh dari aktivitas di layar digital.
Pemkot Pariaman juga menegaskan perlunya perubahan cara memaknai keberhasilan pendidikan anak usia dini. Prestasi anak, menurut Yosneli, tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan akademis seperti membaca atau berhitung.
“Keberhasilan pendidikan itu juga dari bagaimana kita mampu membentuk karakter, kreativitas, kemandirian, dan rasa percaya diri anak-anak kita,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kota Pariaman, Hertati Taher, menyampaikan hal senada. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wadah ekspresi anak di tengah derasnya pengaruh era digital. Melalui seni kolase, anak-anak diajak berinteraksi dengan tekstur dan warna.
“Kita ingin anak-anak melatih kesabaran mereka. Di sini mereka belajar berani tampil, bersosialisasi, dan menghargai proses,” kata Hertati.
Di lokasi kegiatan, suasana GOR Rajo Bujang tampak dipenuhi warna dari karya para peserta. Anak-anak terlihat fokus menempelkan potongan bahan, dengan teknik detail dan gradasi warna. Suasana kegiatan lebih menonjolkan semangat berkarya dibandingkan persaingan.
Ke depan, Pemkot Pariaman berharap kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi seperti IGTKI, sekolah, dan orang tua semakin erat. Sinergi tersebut dinilai penting untuk membentuk generasi yang cerdas, sehat, dan berkarakter di Kota Pariaman.
“Menang atau belum menang bukan yang utama. Yang terpenting adalah keberanian mencoba dan kebahagiaan dalam belajar,” pungkas Yosneli.