Di tengah kehidupan yang kian terdigitalisasi, peran orang tua sebagai pendidik pertama kembali diuji, terutama dalam mengelola penggunaan gadget pada anak. Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, menekankan keterlibatan orang tua perlu dimulai sedini mungkin agar anak memiliki fondasi kebiasaan digital yang sehat.
Menurut Gisella, pembiasaan yang terlambat akan membuat upaya membangun pola penggunaan gadget yang baik menjadi lebih sulit. Ia menilai pengaruh dunia digital tidak bisa dihindari, tetapi orang tua tetap dapat mengupayakan agar anak memiliki kebiasaan yang sehat dalam menggunakan perangkat digital, sembari tetap mengembangkan karakteristik terbaik dirinya.
Gisella menjelaskan, pembatasan durasi serta pemilihan materi konten sebaiknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Berikut panduan durasi penggunaan gadget berdasarkan usia yang ia sampaikan.
Anak usia di bawah 3 tahun
Pada rentang usia ini, penggunaan gadget disarankan sangat minim, dengan batas maksimal 15 menit per hari. Fokus utama anak seharusnya pada aktivitas non-elektronik untuk merangsang kemampuan sensorik motorik sekaligus membangun kedekatan emosional dengan pengasuh.
Anak usia 3–6 tahun
Durasi penggunaan gadget dapat ditingkatkan menjadi sekitar 30 menit per hari. Orang tua diminta memastikan konten yang dikonsumsi sesuai usia, misalnya gim edukatif atau tontonan ringan. Pada fase ini, akses ke media sosial juga perlu tetap ditutup.
Anak usia sekolah dasar (SD)
Penggunaan media sosial atau internet perlu didasarkan pada kesepakatan bersama antara anak dan orang tua. Aturan sebaiknya dibuat secara jelas dan realistis, menyesuaikan kebutuhan anak untuk belajar maupun hiburan.
Selain mengawasi, Gisella menekankan pentingnya orang tua menjadi teladan dalam penggunaan teknologi. Orang tua dapat menunjukkan cara mencari informasi yang sehat di internet, sekaligus menyediakan alternatif aktivitas non-digital yang menyenangkan.
Ia mengingatkan, tanpa penyeimbang, anak berisiko mengalami okupasi atau terlalu fokus pada dunia maya. Dengan memberi pilihan kegiatan yang sesuai minat serta kebutuhan perkembangan anak, diharapkan anak dapat tumbuh dengan karakter yang lebih seimbang antara kecakapan teknologi dan kematangan emosional.