BERITA TERKINI
Psikolog Jelaskan Alasan Anak Bisa Tantrum Saat Gadget Dihentikan dan Cara Meredakannya

Psikolog Jelaskan Alasan Anak Bisa Tantrum Saat Gadget Dihentikan dan Cara Meredakannya

Banyak orangtua mendapati anak tiba-tiba marah, menangis, atau berteriak ketika waktu bermain gadget dihentikan. Psikolog Eka Renny Yustisia menjelaskan, paparan media sosial dan konten digital yang berlangsung terus-menerus dapat membuat otak anak terbiasa dengan lonjakan cepat hormon kesenangan (dopamin).

Kondisi tersebut membuat anak rentan menunjukkan reaksi emosional yang kuat ketika akses terhadap gadget dihentikan secara mendadak. Menurut Eka, penggunaan gadget yang terlalu sering dapat membentuk pola stimulasi tinggi pada otak anak. Video pendek, permainan interaktif, hingga media sosial memberi sensasi cepat yang mendorong anak ingin mengulang pengalaman yang sama.

Ketika aktivitas itu dihentikan tiba-tiba, anak bisa mengalami kondisi yang menyerupai gejala withdrawal atau putus dari kebiasaan menyenangkan. Reaksinya dapat berupa marah, menangis, sulit tenang, hingga menolak berkomunikasi. Dalam situasi ini, tantrum tidak selalu berarti pembangkangan, melainkan juga respons emosional karena anak belum mampu mengelola rasa kecewa dan frustrasi.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Eka menyarankan orangtua memvalidasi emosi anak tanpa membenarkan perilakunya. Orangtua diminta menunjukkan empati dengan memahami perasaan anak agar sistem emosinya perlahan menjadi lebih tenang.

Orangtua dapat menyampaikan bahwa perasaan anak dipahami, tanpa harus menyetujui kemarahan yang berlebihan. Contohnya dengan mengatakan, “Ibu tahu kamu masih ingin bermain dan merasa kesal karena harus berhenti.” Kalimat sederhana ini membantu anak merasa didengar sehingga emosinya dapat berangsur menurun.

Setelah anak lebih tenang, orangtua baru dapat menjelaskan alasan mengapa waktu bermain gadget perlu dibatasi. Pendekatan ini dinilai penting karena anak cenderung lebih sulit menerima aturan ketika sedang berada pada puncak emosi.