Pembatasan akses internet di Rusia memicu kecaman dari masyarakat, termasuk terkait upaya pengasingan Telegram, platform media sosial yang populer di negara tersebut. Reaksi publik itu disebut turut berdampak pada tingkat kepopuleran Presiden Vladimir Putin.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan internal, dorongan dari lembaga keamanan Federal Security Service (FSB) untuk menerapkan kontrol yang lebih ketat mendorong sejumlah pejabat tinggi memperingatkan adanya risiko politik dan ekonomi jika pemblokiran akses internet terus dilakukan.
Sumber-sumber tersebut menambahkan, situasi ini kemungkinan akan memperlambat langkah penindakan, sehingga Telegram dapat tetap beroperasi di Rusia. Para sumber meminta identitasnya tidak disebutkan karena membahas isu internal.
Hingga berita ini disusun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.