BERITA TERKINI
Program AFRASIA Mantapkan Agenda Riset Kesehatan, Air Bersih, dan Energi untuk Target Implementasi 2027

Program AFRASIA Mantapkan Agenda Riset Kesehatan, Air Bersih, dan Energi untuk Target Implementasi 2027

Kolaborasi lintas benua AFRASIA yang diinisiasi Universitas Negeri Malang (UM) bersama mitra global memasuki tahap teknis yang lebih mendalam. Program ini menyepakati tiga isu fundamental sebagai pilar utama riset, yakni kesehatan, krisis air bersih, dan ketahanan energi.

Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., mengatakan pemilihan tiga topik tersebut merupakan hasil kesepakatan dalam pertemuan di Pretoria, Afrika Selatan, pada tahun lalu. Menurutnya, ketiga isu itu dinilai sebagai tantangan utama yang dialami hampir setiap negara pascakolonial.

“Topik utama yang disepakati ada tiga: kesehatan, masalah air, dan masalah energi. Ketiganya dianggap paling utama dan dialami oleh setiap negara,” ujar Prof. Markus.

AFRASIA juga menegaskan bahwa riset yang dikembangkan tidak semata berorientasi pada inovasi teknologi. Setiap penelitian diwajibkan menggunakan pendekatan multidisiplin dengan melibatkan peneliti sosial dan humaniora, terutama untuk mengukur dampak teknologi terhadap perubahan perilaku dan kondisi sosial di masyarakat.

“Riset tidak boleh hanya menghasilkan produk, tapi harus membawa perubahan sosial yang nyata. Masyarakat harus menerima dampak positifnya,” kata Prof. Markus.

Saat ini, AFRASIA tengah mematangkan parameter riset melalui sejumlah working package. Dalam proses tersebut, UM disebut memegang peran kunci dalam paket kerja kolaborasi internasional.

Langkah berikutnya adalah soft launching program di Cape Town, Afrika Selatan. Rektor UM dijadwalkan hadir untuk mengunci komitmen bersama universitas-universitas mitra.

Program AFRASIA ditargetkan mulai diimplementasikan pada 2027 melalui skema kompetisi riset yang dibuka untuk 77 negara anggota Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation). Meski terbuka untuk puluhan negara, pendaftar diwajibkan menjalin kolaborasi dengan empat negara inisiator, yaitu Indonesia, Malaysia, Tanzania, dan Afrika Selatan.