BERITA TERKINI
Peringatan World Health Day 2026, ITB Soroti Riset dan Inovasi Teknologi untuk Kesehatan

Peringatan World Health Day 2026, ITB Soroti Riset dan Inovasi Teknologi untuk Kesehatan

Bandung—Dalam momentum World Health Day 2026, Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan penguatan perannya melalui riset, inovasi, dan kolaborasi di bidang kesehatan berbasis sains. Berbagai inisiatif yang dilakukan sivitas akademika ITB disebut sebagai upaya agar sains tidak berhenti di laboratorium, melainkan hadir sebagai solusi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat.

Sejumlah kegiatan dan capaian yang disorot meliputi pengembangan teknologi soft robotics, pembuatan alat medis lokal, penguatan fasilitas riset farmasi, hingga raihan penghargaan nasional dan internasional. Melalui langkah-langkah tersebut, ITB menyatakan komitmennya untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan kesehatan dan ilmu pengetahuan.

Salah satu sorotan datang dari Ir. Vani Virdyawan, S.T., M.T., Ph.D., dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru Semester I Tahun Akademik 2025/2026, ia menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Ilmu yang Menghidupkan: Peran Soft Robotics dalam Pelayanan Kesehatan bagi Sesama” yang diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa.

Dalam pemaparannya, Vani menjelaskan teknologi robot lunak (soft robot), inovasi robotika yang dibuat dari material fleksibel sehingga dinilai aman digunakan di lingkungan tidak terstruktur, termasuk di dalam tubuh manusia. Menurutnya, keunggulan soft robot terletak pada kemampuannya beradaptasi dengan bentuk dan tekstur lingkungan sekitar, sehingga risiko kerusakan jaringan atau cedera pada pasien dapat diminimalkan. Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu, 11 April 2026.

Di luar pengembangan teknologi, ITB juga mengirimkan bantuan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat terdampak bencana di Kota Langsa, Provinsi Aceh. Keterbatasan akses air bersih serta sarana mandi, cuci, kakus (MCK) disebut menjadi persoalan utama yang dihadapi warga di wilayah terdampak.

Inovasi juga datang dari mahasiswa Sekolah Farmasi ITB. Tim SGA mengembangkan “Clariskin Nano”, krim nanoemulsi anti jerawat berbahan ekstrak temulawak, pandan, dan serai wangi. Produk ini dirancang dengan menggabungkan efektivitas teknologi nanoemulsi dan prinsip keberlanjutan.

Pengembangan Clariskin Nano disebut berangkat dari minat terhadap green chemistry dan sustainable cosmetics, sehingga pendekatan keberlanjutan diterapkan sejak tahap formulasi, proses produksi, hingga pemilihan kemasan. Inovasi tersebut menunjukkan riset mahasiswa di bidang farmasi tidak hanya menekankan efektivitas, tetapi juga mempertimbangkan aspek lingkungan dan masa depan industri kosmetik sehat.