BERITA TERKINI
Perguruan Tinggi Dinilai Masih Lemah Bangun Ekosistem Riset dan Inovasi

Perguruan Tinggi Dinilai Masih Lemah Bangun Ekosistem Riset dan Inovasi

Perguruan tinggi di Indonesia dinilai masih kerap dipandang sebagai “pabrik ijazah” ketimbang pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Ukuran keberhasilan kampus lebih sering dilekatkan pada jumlah mahasiswa baru, kemegahan gedung, atau capaian administratif seperti akreditasi, sementara penguatan kultur akademik dan riset belum menjadi perhatian utama.

Dalam praktik sehari-hari, banyak dosen disebut sebagai “agen perubahan” dan “intelektual publik”. Namun, realitas yang dihadapi sering kali justru menjauhkan mereka dari inti dunia akademik, yakni riset dan penciptaan pengetahuan. Ketika negara mendorong hilirisasi, inovasi, transformasi digital, hingga kemandirian teknologi, ekosistem yang menopang riset—terutama riset terapan—masih dinilai rapuh.

Masalah riset disebut bukan terletak pada rendahnya kapasitas intelektual dosen. Banyak akademisi dinilai memiliki bakat dan kreativitas, tetapi negara dan institusi pendidikan tinggi belum sepenuhnya membangun ekosistem yang memungkinkan ilmu pengetahuan tumbuh secara sehat.

Di banyak kampus, terutama perguruan tinggi swasta, dosen kerap mengajar terlalu banyak kelas untuk memenuhi kebutuhan operasional institusi. Pada saat yang sama, mereka dibebani pekerjaan administratif seperti laporan, akreditasi, pengisian dokumen kinerja, hingga tugas struktural yang menyita waktu dan energi. Akibatnya, waktu untuk membaca jurnal, melakukan eksperimen, turun ke lapangan, atau membangun kolaborasi riset menjadi sangat terbatas.

Kondisi tersebut dinilai mendorong kampus bergerak ke arah ruang birokrasi, bukan ruang intelektual. Padahal, riset—terutama riset terapan—membutuhkan waktu berpikir yang panjang, konsentrasi, keberanian mencoba, kemungkinan gagal berulang kali, serta dukungan institusi yang stabil. Sementara itu, banyak sistem riset masih berjalan dalam logika proyek tahunan yang administratif dan formalistik.

Situasi ini memunculkan kecenderungan penelitian dilakukan bukan terutama untuk menjawab persoalan bangsa, melainkan untuk memenuhi angka kredit dan tuntutan publikasi. Dosen didorong mengejar kuantitas artikel ilmiah, sementara dampak nyata penelitian sering ditempatkan sebagai prioritas kedua.

Akibatnya muncul paradoks: publikasi meningkat, tetapi inovasi nasional dinilai berjalan lambat. Di sisi lain, relasi kampus dengan industri juga dianggap belum tumbuh matang. Banyak industri memilih membeli teknologi dari luar negeri ketimbang memanfaatkan hasil riset kampus dalam negeri. Sebaliknya, tidak sedikit penelitian kampus dinilai terlalu teoritis dan jauh dari kebutuhan riil masyarakat maupun pasar, sehingga riset terapan kehilangan ruang hidupnya.

Dalam perbandingan dengan negara maju, universitas disebut berperan sebagai pusat lahirnya teknologi dan solusi sosial melalui ekosistem yang saling menopang antara pemerintah, industri, dan kampus. Negara hadir dengan pendanaan besar untuk penelitian jangka panjang, industri menjadi pengguna sekaligus mitra inovasi, dan kampus diberi ruang untuk berpikir serta bereksperimen.

Di Indonesia, kondisi itu dinilai belum tercapai. Akibat lemahnya ekosistem riset, dosen yang serius meneliti kerap harus berjalan sendiri. Dampaknya dinilai strategis bagi masa depan bangsa: negara yang lemah dalam riset akan cenderung bergantung pada teknologi asing, menjadi pasar inovasi negara lain, dan kesulitan keluar dari jebakan negara berkembang. Meski memiliki sumber daya alam melimpah, tanpa riset dan inovasi nilai tambah ekonomi dikhawatirkan lebih banyak dinikmati pihak luar.

Karena itu, perbaikan riset nasional dinilai tidak cukup dilakukan dengan menambah tuntutan kepada dosen. Yang dianggap lebih mendesak adalah membangun sistem yang memungkinkan akademisi dapat berpikir, meneliti, dan berinovasi secara manusiawi. Sejumlah langkah yang disorot antara lain pengurangan beban administratif, peningkatan pendanaan riset jangka panjang, penguatan laboratorium, pembangunan koneksi serius dengan industri, serta penciptaan budaya akademik yang sehat.

Perguruan tinggi juga didorong mengubah orientasi dari sekadar mengejar jumlah mahasiswa menuju pembangunan tradisi ilmu pengetahuan. Pandangan tersebut menekankan bahwa bangsa besar tidak dibangun hanya dengan slogan inovasi, melainkan melalui penghormatan serius terhadap ilmu pengetahuan yang hanya dapat tumbuh dalam ekosistem yang sehat.