BERITA TERKINI
Penyuluh Agama di Maluku Tenggara Ingatkan Penggunaan Gadget Perlu Kendali Diri

Penyuluh Agama di Maluku Tenggara Ingatkan Penggunaan Gadget Perlu Kendali Diri

Langgur — Gadget kini melekat dalam keseharian manusia. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, banyak orang nyaris tidak lepas dari layar telepon genggam.

Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tenggara, Meilinda Nina Rumatora, S.Th, menilai fenomena tersebut relevan dengan pesan dalam 1 Korintus 6:12: “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh apa pun.” Menurutnya, ayat itu dapat menjadi pengingat dalam melihat cara manusia berinteraksi dengan teknologi.

Rumatora menjelaskan, di satu sisi gadget dapat menjadi “teman” yang membantu. Perangkat itu memudahkan komunikasi jarak jauh, membuka akses informasi luas, serta menunjang pekerjaan dan pendidikan.

Namun, ia mengingatkan gadget juga bisa berubah menjadi “musuh diam” ketika digunakan secara berlebihan. Penggunaan tanpa kontrol berpotensi memicu kecanduan, menurunkan kualitas interaksi sosial, serta mengganggu kesehatan fisik dan mental. Ia menambahkan, waktu yang semestinya dipakai untuk keluarga, refleksi diri, atau ibadah kerap tergantikan oleh aktivitas di layar.

“Seperti yang diingatkan dalam firman tersebut, masalahnya bukan pada gadget itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya,” kata Rumatora saat memberikan penyuluhan kepada kelompok Kineret Pokarina, Rabu (25/03/2026).

Ia menilai, ketika seseorang mulai “diperhamba” oleh notifikasi, media sosial, atau hiburan digital tanpa kendali, pada titik itu gadget dapat beralih menjadi ancaman yang halus namun nyata.

Karena itu, Rumatora menekankan pentingnya kebijaksanaan dan pengendalian diri. Menurutnya, gadget seharusnya berfungsi sebagai alat yang memberdayakan, bukan menguasai. Dengan penggunaan yang seimbang dan sadar, manfaat teknologi tetap dapat dinikmati tanpa kehilangan kendali atas hidup.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa gadget pada dasarnya merupakan alat netral, yang dampaknya bergantung pada siapa yang memegang kendali dalam menggunakannya.