TEHERAN — Penutupan akses internet berskala nasional di Iran yang berlangsung hampir sepanjang 2026 disebut telah melumpuhkan dunia usaha, terutama sektor yang bergantung pada konektivitas digital. Di tengah pembatasan ini, banyak pelaku bisnis online melaporkan penurunan pendapatan drastis hingga berhenti beroperasi.
Di sebuah studio di Teheran, perancang fesyen Amin Khademi tetap menyiapkan pemotretan untuk jaket rancangannya bermotif terinspirasi Persia. Namun, ia mengaku tidak melakukan penjualan selama berbulan-bulan karena kehilangan jalur utama untuk menjangkau pelanggan. Menurutnya, pemadaman internet dalam empat bulan terakhir menghancurkan bukan hanya bisnisnya, tetapi juga banyak usaha online lain.
Iran, dengan populasi sekitar 90 juta jiwa, mengalami pemutusan akses ke internet global yang digambarkan sebagai salah satu penutupan nasional terpanjang dan terketat. Pemerintah menyebut kebijakan ini sebagai kebutuhan pada masa perang. Meski ada gencatan senjata yang tidak mudah dengan Amerika Serikat dan Israel, otoritas Iran belum mencabut penutupan tersebut. Di saat yang sama, kebijakan ini menuai kecaman karena dinilai memperburuk kehilangan pekerjaan yang juga dipicu pemogokan di sejumlah industri utama dan blokade AS yang berkelanjutan.
Sebelum Januari, warga Iran masih dapat mengakses internet dengan berbagai pembatasan konten. Kini, akses ke web global ditutup sepenuhnya. Ada cara-cara untuk mengakali pembatasan, tetapi biayanya disebut sangat mahal dan tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat.
Anggota Kamar Dagang Iran, Afshin Kolahi, mengatakan kepada surat kabar lokal bahwa pemutusan internet merugikan perekonomian sekitar 30–40 juta dolar AS per hari, sementara kerugian tidak langsung diperkirakan bisa dua kali lipat. Menteri Komunikasi, Sattar Hashemi, menyatakan sekitar 10 juta orang memiliki pekerjaan yang bergantung pada konektivitas internet.
Selama bertahun-tahun, di tengah tekanan ekonomi akibat sanksi dan persoalan tata kelola, platform seperti Instagram dan WhatsApp menjadi tumpuan usaha kecil untuk menjangkau pelanggan. Banyak warga juga mengandalkan ekonomi digital untuk menambah penghasilan ketika harga kebutuhan pokok meningkat.
Otoritas Iran pertama kali mematikan internet pada Januari saat terjadi protes massal anti-pemerintah. Pemutusan ini sempat mereda, sebelum kemudian diberlakukan pemadaman total pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan perang.
Pakar sensor internet Mahsa Alimardani menilai beberapa wilayah seperti Kashmir dan Myanmar pernah mengalami pemblokiran lebih lama, tetapi biasanya terbatas pada wilayah atau platform tertentu. Sementara negara seperti China dan Korea Utara secara konsisten membatasi akses ke internet global. Menurut Alimardani, yang membuat kasus Iran berbeda adalah kombinasi skala dan tingkat keparahannya: seluruh negara berpenduduk 90 juta orang dengan ekonomi digital yang maju diarahkan secara sengaja ke intranet nasional yang terkendali.
Dampak penutupan ini juga terlihat pada perusahaan besar. Pengecer online DigiKala menyatakan telah memberhentikan 200 orang, sekitar 3% dari tenaga kerjanya. Reza Olfatnasab, ketua kelompok nasional yang mewakili bisnis digital, mengatakan dampaknya meluas ke produksi, perdagangan luar negeri, hingga bisnis tradisional.
Bagi Khademi, etalase utama usahanya selama ini adalah Instagram. Namun akun studionya yang memiliki lebih dari 30.000 pengikut kini tidak aktif. Ia tetap melakukan pemotretan untuk menyimpan materi promosi, sambil berharap menemukan alternatif.
Model yang terlibat dalam pemotretan itu, Farnaz Ojaghloo, juga pelatih kebugaran. Ia mengatakan penutupan internet menghentikan pekerjaan modeling serta kursus online yang biasa ia jalankan untuk peserta di Iran maupun luar negeri. Ia menggambarkan dampaknya sebagai pukulan psikologis karena rencana berbulan-bulan ke depan harus dikesampingkan dan fokus berubah menjadi sekadar bertahan hidup.
Sebelum perang, banyak warga Iran melewati penyaringan pemerintah dengan VPN murah dan solusi sederhana lainnya. Kini, penutupan internet memicu lonjakan harga VPN di pasar gelap. Media pemerintah Iran juga rutin melaporkan penangkapan orang-orang yang menggunakan VPN ilegal atau sistem satelit Starlink, yang dilarang tahun lalu.
Sejumlah pejabat senior pemerintah dilaporkan memiliki kartu SIM “putih” yang memberi akses ke internet global. Dalam upaya meredam dampak ekonomi, pemerintah juga mengizinkan akses internet yang lebih longgar bagi sebagian kecil profesi, bisnis, dan media.
Namun, sistem akses berjenjang ini memicu kritik. Kelompok perdagangan e-commerce di Teheran mengecamnya sebagai penyalahgunaan terhadap kebutuhan nyata setiap warga negara, serta memperingatkan bahwa pemadaman mengancam penghancuran infrastruktur negara oleh keputusan para pengambil kebijakan sendiri.
Bagi mayoritas warga, pilihan yang tersedia adalah jaringan nasional Iran. Seorang warga Teheran yang bekerja di bidang periklanan mengatakan sponsor tidak lagi tertarik membayar konten yang tidak bisa diposting di platform besar seperti Instagram, tempat ia memiliki puluhan ribu pengikut. Ia menyebut pendapatannya turun mendekati nol sejak perang dimulai.
Seorang gamer di Isfahan yang memiliki banyak pengikut di YouTube dan Instagram mengatakan jaringan domestik Iran lambat, tidak aman, dan penuh gangguan teknis. Ia juga mengaku kehilangan hampir seluruh pendapatannya dari sponsor dan donasi. Keduanya berbicara dengan syarat anonim karena alasan keamanan.
Iran memiliki platform media sosial domestik yang meniru layanan seperti WhatsApp dan YouTube, tetapi kontennya diawasi ketat dan sering disensor. Gamer tersebut mengatakan banyak orang tidak benar-benar ingin menggunakan platform itu, tetapi tidak memiliki pilihan lain.
Tekanan ekonomi akibat penutupan internet disebut menambah beban kelas menengah Iran yang sebelumnya besar dan berpendidikan, yang sudah terpukul oleh melemahnya mata uang sebelum perang. Penurunan ekonomi juga memicu gelombang protes anti-pemerintah, terakhir pada Desember.
Seorang pengembang perangkat lunak mengatakan semakin banyak warga mempertimbangkan untuk beremigrasi. Ia menyebut penutupan internet menghapus peluang kerja jarak jauh. Ia kehilangan pekerjaannya setelah perusahaan lamanya memberhentikan hampir seluruh karyawan dalam beberapa minggu terakhir. Ia juga meminta identitasnya tidak dipublikasikan demi keamanan.
Konsekuensi lain terlihat di jalanan Teheran, dengan meningkatnya jumlah pedagang kaki lima. Reza Amiri, 32 tahun, mantan karyawan penyedia internet, kini berjualan topi dan payung di halte metro. Ia mengatakan kehilangan pekerjaan setelah perang dimulai dan belum menerima gaji bulan lalu.
Monireh Pishgahi, yang berjualan ornamen dan aksesori di Jalan Vali Asr, mengatakan usaha jahitnya dulu memasok tiga toko online. Setelah pesanan sepi, ia menutup usahanya dan memecat lima karyawan.
Di pusat kota, seorang penjaga toko bernama Mohammad Rihai mengatakan ia sudah menyerah membujuk pedagang kaki lima agar tidak menghalangi trotoar di depan tokonya. Menurutnya, setelah perang, pedagang kaki lima terlihat memenuhi sepanjang trotoar dan ia tidak bisa melawan mereka lagi.