Perkembangan teknologi membuat anak-anak kini tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan gadget. Aktivitas seperti menonton video hingga bermain gim di ponsel kian menjadi bagian dari keseharian, bahkan sejak usia dini.
Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan. Namun di sisi lain, terdapat dampak yang kerap luput dari perhatian orang tua. Penelitian yang dimuat dalam Bulletin of Islamic Research menyebutkan bahwa penggunaan gadget tanpa pendampingan dapat memengaruhi pembentukan karakter anak, terutama terkait emosi, perilaku, serta cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Pada usia dini, anak berada dalam fase meniru yang kuat. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan mudah terserap dan kemudian menjadi kebiasaan. Dalam konteks ini, gadget dapat berperan sebagai “lingkungan baru” yang ikut membentuk cara anak berpikir.
Masalah muncul ketika konten yang dikonsumsi tidak sesuai dengan usia anak. Tanpa penyaringan yang tepat, anak berisiko terpapar hal-hal yang kurang pantas, mulai dari cara berbicara, perilaku, hingga gaya hidup yang sebenarnya belum layak mereka pahami.
Situasi ini kerap diperparah oleh minimnya pengawasan. Sebagian orang tua memberikan akses gadget sebagai cara praktis untuk menenangkan anak, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang ditonton atau dilakukan.
Penelitian tersebut menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam membantu anak menghadapi tantangan di era digital. Peran orang tua tidak hanya sebatas menetapkan aturan, tetapi juga mendampingi anak agar memahami batasan.
Dalam keseharian, anak turut belajar dari contoh di rumah. Kebiasaan orang tua dalam menggunakan gadget, cara berkomunikasi, serta kemampuan mengatur waktu dapat menjadi teladan yang tanpa disadari ditiru anak.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan semata larangan, melainkan keseimbangan. Anak tetap dapat memanfaatkan teknologi, tetapi dengan batasan yang jelas dan pendampingan yang tepat.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, peran orang tua dituntut untuk lebih hadir, tidak hanya secara fisik, melainkan juga dengan memahami dunia digital yang sedang dihadapi anak.