Dominasi penggunaan gadget dinilai mulai mengancam budaya membaca masyarakat di Kabupaten Sikka, terutama di kalangan pelajar. Pergeseran ini ditandai dengan perubahan pola konsumsi informasi dari buku ke perangkat digital.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sikka, Very Awales, menyoroti fenomena tersebut saat berbincang dalam Program Florata Pagi pada Rabu, 29 April 2026. Ia menyebut kebiasaan membaca buku fisik terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, sehingga menjadi tantangan bagi penguatan literasi daerah.
Di tengah perubahan tersebut, capaian literasi Kabupaten Sikka disebut belum optimal. Berdasarkan Survei Tingkat Kegemaran Membaca 2025, Sikka belum masuk 10 besar di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan skor 58,43.
Secara nasional, data Badan Pusat Statistik tahun 2026 menunjukkan NTT menjadi provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi dengan skor 62,05, melampaui rata-rata nasional 54,80. Namun, capaian tingkat provinsi itu dinilai belum sepenuhnya tercermin di tingkat kabupaten, termasuk di Sikka.
Pemerintah daerah mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat untuk membangun kebiasaan membaca. Upaya ini diharapkan dapat menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan penguatan budaya literasi.