BERITA TERKINI
Pengayaan Polifenol 2% pada Fungisida Organik Diklaim Tekan Busuk Pangkal Batang Sawit

Pengayaan Polifenol 2% pada Fungisida Organik Diklaim Tekan Busuk Pangkal Batang Sawit

Peneliti Ciptadi Achmad Yusup bersama tim mengembangkan inovasi pengayaan bahan aktif polifenol sebesar 2% pada Fungisida Organik (FO) Ganor+ untuk menekan serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada kelapa sawit. BPB merupakan penyakit utama di perkebunan kelapa sawit yang disebabkan jamur Ganoderma boninense dan dinilai memicu kerugian ekonomi besar sehingga memerlukan pengendalian kuratif yang menyeluruh, terpadu, serta ramah lingkungan.

Berdasarkan informasi yang dimuat di laman www.bpdp.or.id pada Minggu (10/05/2026), aplikasi formula terbaru tersebut disebut mampu menurunkan tingkat pembusukan pangkal batang pada bibit kelapa sawit secara signifikan, dari 49,68% menjadi sekitar 21,69% hingga 26,11%.

Optimasi konsentrasi polifenol dilakukan melalui serangkaian pengujian, mulai dari uji in vitro di laboratorium hingga uji in vivo pada bibitan selama 10 bulan untuk mengamati tingkat efikasi bahan aktif yang dipilih. Hasil riset juga menyebutkan produk perlindungan tanaman ini memiliki stabilitas baik karena tidak mengalami perubahan warna, kekentalan, maupun bau setelah disimpan selama satu tahun.

Pada tahun kedua, pengujian lapangan dilakukan dengan skema multilokasi di empat titik koordinat berbeda untuk menilai konsistensi efektivitas formula pada beragam karakteristik lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Lokasi pengujian mencakup wilayah Jawa Barat dan Sumatera Utara, dengan tantangan agronomis yang beragam, guna memastikan daya adaptasi produk terhadap kondisi lingkungan mikro, baik di perkebunan rakyat maupun swasta.

Data sementara hingga lima bulan setelah aplikasi menunjukkan adanya tren penurunan gejala serangan BPB, yang ditandai berkurangnya jumlah daun tombak per tanaman secara berkala. Selain itu, aplikasi polifenol dosis tinggi dilaporkan memberikan dampak destruktif langsung pada struktur fisik jamur patogen, dengan tubuh buah jamur mengering dan berubah warna menjadi hitam dalam waktu satu bulan.

Dalam pengujian yang sedang berjalan, interval pemberian formula—baik sebulan sekali maupun dua bulan sekali—dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata terhadap pemulihan kesehatan tanaman di seluruh lokasi pengujian.

Analisis laboratorium pada jaringan batang juga mengungkap penggunaan produk ini berkaitan dengan rendahnya jumlah enzim ligninolitik yang terdeteksi dibandingkan kelompok kontrol tanpa perlakuan. Penurunan jumlah enzim tersebut diduga memiliki korelasi linear dengan melemahnya aktivitas metabolisme jamur patogen di dalam jaringan tanaman, meski tingkat virulensi dan kondisi inang tetap disebut sebagai faktor eksternal yang berpengaruh.

Tim peneliti masih melanjutkan analisis kandungan ergosterol pada jaringan pangkal batang untuk memperkuat bukti ilmiah terkait efektivitas mekanisme penghambatan pertumbuhan koloni jamur di lapangan. Pengamatan intensif dijadwalkan berlangsung hingga sembilan bulan setelah aplikasi pertama untuk memperoleh data yang lebih komprehensif mengenai keberlanjutan perlindungan tanaman dari ancaman infeksi jamur yang merusak struktur batang sawit.