Peneliti Universitas Andalas (Unand), Dr. Dinah Cherry dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), mengembangkan kamera digital untuk mendeteksi tingkat kematangan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari jarak jauh. Inovasi ini ditujukan untuk membantu penentuan waktu panen yang lebih tepat agar kualitas serta rendemen minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) meningkat melalui sistem pemantauan yang disebut nontoksik.
Informasi mengenai teknologi tersebut dimuat di laman Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada Sabtu (04/04/2026). Dalam keterangan itu disebutkan, perangkat mampu memindai objek hingga jarak 23 meter dan berpotensi meningkatkan total produksi kelapa sawit nasional sampai 15 persen.
Perangkat ini mengandalkan sistem visi mesin (machine vision) yang terdiri atas kamera beresolusi 23 Mega Piksel (MP) dan lensa tele dengan kemampuan perbesaran optis hingga 16 kali. Sistem pendeteksi bekerja menggunakan pemilah spektrum cahaya serta perangkat lunak pengolah citra digital berbasis Android, yang didukung komputasi untuk mengambil keputusan otomatis terkait kelayakan panen buah.
Pengembangan alat ini berangkat dari persoalan di lapangan, yakni TBS kerap dipanen sebelum mencapai umur optimum. Fenomena buah yang membrondol lebih cepat disebut sering mengecoh petani, sehingga minyak sawit yang dihasilkan menjadi berkualitas lebih rendah. Selama ini, metode konvensional umumnya mengandalkan perhitungan manual jumlah brondolan di sekitar pokok pohon, namun cara tersebut dinilai tidak selalu akurat karena faktor lingkungan dapat memicu brondolan prematur.
Dalam desainnya, perangkat buatan peneliti Unand disebut ringan sehingga mudah dioperasikan pekerja lapangan. Operator pria maupun wanita dapat menggunakan alat ini saat berkeliling area kebun tanpa kendala fisik yang berarti.
Hasil rekaman gambar dari kamera kemudian dianalisis oleh sistem aplikasi untuk menghasilkan estimasi rendemen minyak. Data itu dapat menjadi acuan perusahaan dalam menyempurnakan metode pemanenan yang telah diterapkan. Dengan penerapan penginderaan jauh tersebut, setiap tandan yang dipanen diharapkan berada dalam kondisi matang, sehingga perolehan CPO dapat dimaksimalkan sekaligus menjaga standar mutu produk kelapa sawit Indonesia.
BPDPKS juga menyebut implementasi inovasi ini mendukung strategi pengembangan industri sawit nasional, terutama melalui pemanfaatan teknologi digital di sektor hulu untuk mendorong efisiensi kerja dan memperkuat posisi tawar minyak sawit di pasar global.