Jakarta — Peneliti Indonesia mengembangkan strategi pengendalian kuratif terhadap serangan jamur Ganoderma boninense yang dilaporkan resisten terhadap fungisida heksakonozol. Strategi ini memanfaatkan inovasi lipopeptida novel dari isolat Streptomyces GBSR1 yang diformulasikan dengan teknologi enkapsulasi berbasis Succinaldehydic Acid-Chitosan System (SAC-CS).
Ganoderma boninense dikenal sebagai penyebab Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) pada kelapa sawit. Penyakit ini dinilai berbahaya karena dapat merusak lebih dari separuh bagian tanaman sebelum gejala tampak jelas di permukaan tanah maupun pada fisik pohon.
Informasi yang dilansir dari laman www.bpdp.or.id pada Senin (11/05/2026) menyebutkan, uji laboratorium menunjukkan isolat Streptomyces GBSR1 mampu menghambat pertumbuhan miselia jamur penyebab penyakit hingga 61% melalui pengujian in vitro.
Selama ini, penggunaan fungisida sistemik disebut kerap tidak efektif menekan perkembangan penyakit. Hal tersebut dikaitkan dengan pola infeksi akar yang sulit diprediksi sejak awal serta munculnya masalah resistensi pada jaringan tanaman.
Dalam pengembangan formulasi, teknologi enkapsulasi SAC-CS menjadi komponen penting untuk meningkatkan ketahanan senyawa antifungal terhadap suhu tinggi, paparan sinar ultraviolet (UV), serta fluktuasi derajat keasaman (pH). Formulasi ini juga ditujukan agar zat aktif lebih mudah diserap dan terdistribusi merata di jaringan tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis).
Identifikasi isolat dilakukan berdasarkan gen penanda 16S ribosomal Ribonucleic Acid (16S rRNA). Isolat tersebut teridentifikasi sebagai Streptomyces sampsomii (S. sampsomii) dengan ciri morfologi sel berupa aerial hyphae tipe RF.
Senyawa lipopeptida siklik yang dihasilkan bakteri ini bekerja dengan merusak struktur hifa jamur patogen hingga mengalami kebocoran dan lisis, yang berujung pada kematian total jaringan miselia. Pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dilaporkan memperlihatkan bukti kerusakan fisik pada tubuh jamur setelah terpapar senyawa aktif dari bakteri tanah yang telah dioptimasi formulasinya.
Riset ini melibatkan Cico Jhon Karunia Simamora, Nelly Wahyuni, Muhammad Pramulya, dan Jumiati. Mereka memfokuskan pengembangan pada obat antijamur yang selektif dan kuat. Tahap pertama riset pada 2024 disebut telah berhasil melakukan identifikasi isolat, sementara proses ekstraksi, fraksinasi, serta identifikasi golongan lipopeptida menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) masih terus dijalankan.
Pengujian formulasi dijadwalkan menyasar area pembibitan serta aplikasi langsung di perkebunan komersial pada 2025. Tahap ini ditujukan untuk memastikan efektivitas pembasmian patogen di dalam jaringan batang tanaman yang terinfeksi.
Inovasi berbasis lipopeptida ini juga disebut sebagai alternatif pengendalian yang ramah lingkungan karena memanfaatkan mikroorganisme alami, sekaligus ditujukan untuk menjawab keterbatasan prosedur sanitasi konservatif serta manipulasi serapan hara yang dinilai belum maksimal.