BERITA TERKINI
Peneliti FTUI Kembangkan Biorefinery TKKS untuk Produksi Bioetanol, Furfural, dan Asam Levulinat

Peneliti FTUI Kembangkan Biorefinery TKKS untuk Produksi Bioetanol, Furfural, dan Asam Levulinat

Tim peneliti Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) mengembangkan konsep biorefinery untuk mengolah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) menjadi bioetanol, furfural, dan asam levulinat. Inovasi ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah limbah perkebunan kelapa sawit melalui pemanfaatan komponen selulosa dan hemiselulosa.

Riset yang dipimpin Prof. Dr. Ing. Misri Gozan tersebut mengintegrasikan proses hidrolisis dan fermentasi agar lebih efisien, termasuk dari sisi penggunaan energi. Melalui integrasi ini, limbah sawit tidak hanya dipandang sebagai beban lingkungan, tetapi sebagai sumber bahan baku untuk menghasilkan produk kimia bernilai tinggi bagi kebutuhan industri nasional.

Dalam pengembangan prosesnya, tim memanfaatkan produk samping hidrolisis asam seperti 5-hydroxymethylfurfural (HMF). Senyawa ini dapat dikonversi menjadi asam levulinat, yang disebut dibutuhkan oleh berbagai sektor, termasuk industri farmasi, bahan bakar nabati, dan bahan aditif.

Indonesia saat ini masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan asam levulinat dan furfural. Karena itu, pengolahan TKKS melalui konsep biorefinery dinilai membuka peluang untuk memperkuat kemandirian industri kimia dalam negeri dengan memanfaatkan limbah domestik.

Pada jalur pemrosesan hemiselulosa, TKKS melalui tahap hidrolisis untuk menghasilkan furfural. Furfural memiliki peran penting sebagai pelarut utama dalam industri pengolahan minyak bumi dan pembuatan pelumas. Selain itu, senyawa organik tersebut juga menjadi bahan dasar untuk produksi nilon, sehingga optimalisasi TKKS berpotensi mengurangi ketergantungan industri terhadap bahan baku impor yang harganya fluktuatif di pasar global.

Tim peneliti juga menyoroti tantangan pada produksi bioetanol berbasis selulosa, yakni terbentuknya racun berupa HMF yang dapat menghambat fermentasi. Namun, pemisahan HMF dinilai memberi keuntungan ganda karena senyawa tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi asam levulinat.

Berdasarkan capaian penelitian, tim FTUI telah menghasilkan prototipe pabrik untuk produksi furfural, asam levulinat, dan bioetanol. Riset ini juga mencatat adanya kerja sama strategis dengan mitra industri PT Enerba Teknologi, serta perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) berupa rancangan detail pabrik.

Pengembangan teknologi tersebut turut disertai analisis ekonomi untuk menilai peluang penerapan pada skala industri. Hingga saat ini, disebutkan belum ada pabrik komersial di Indonesia yang memproduksi ketiga komoditas itu secara terintegrasi.

Ke depan, pembangunan fasilitas biorefinery diharapkan dapat mengubah sisa hasil panen yang tidak terpakai menjadi produk kimia spesialis. Upaya ini dipandang relevan untuk memperkuat struktur industri manufaktur berbasis sumber daya alam, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna dalam transformasi limbah perkebunan menjadi sumber energi bersih dan terbarukan.

Kemitraan antara akademisi FTUI dan sektor swasta juga dinilai memberi sinyal positif bagi pengembangan investasi teknologi hijau. Hasil riset ini menunjukkan bahwa inovasi lokal dapat berkontribusi dalam menjawab kebutuhan industri kimia yang terus berkembang.