Bandung—Paparan gadget pada anak menjadi perhatian karena dinilai dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional sejak usia dini. Penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari sulit fokus, gangguan tidur, hingga berkurangnya kemampuan bersosialisasi.
Fenomena ini disebut kian meningkat seiring kemudahan akses teknologi. Anak pun lebih sering berinteraksi dengan layar dibandingkan lingkungan sekitarnya, sementara orang tua menghadapi tantangan untuk mengatur penggunaan gadget secara bijak.
Isan, terapis dari My Superkidz Developmental and Learning Center, menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk pola penggunaan gadget yang lebih sehat. Ia menyebut pendampingan dan komunikasi yang baik dapat membantu anak memahami kapan waktu yang tepat menggunakan gadget dan kapan harus berhenti.
“Pendampingan dan komunikasi yang baik dapat membantu anak memahami kapan waktu yang tepat menggunakan gadget dan kapan harus berhenti,” ujarnya kepada RRI, Rabu (22/4/2026).
Ia juga menyoroti pentingnya keteladanan di rumah. Menurutnya, anak cenderung meniru kebiasaan orang tua, sehingga kontrol diri dari orang dewasa menjadi faktor utama dalam membangun kebiasaan penggunaan gadget yang lebih terarah.
Salah satu dampak yang paling terlihat, kata Isan, adalah perubahan perilaku anak yang cenderung mudah marah dan kurang sabar. Kondisi ini dikaitkan dengan kebiasaan anak menerima stimulasi instan dari konten digital.
Penggunaan gadget yang berlebihan juga dinilai dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengelola emosi. Anak menjadi kurang terbiasa menghadapi situasi nyata yang membutuhkan interaksi langsung dan pemecahan masalah.
Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua disarankan membuat batasan waktu penggunaan gadget yang jelas dan konsisten. Kegiatan alternatif seperti bermain di luar, membaca, atau berinteraksi dengan keluarga juga perlu ditingkatkan.
Dengan pengawasan dan pendekatan yang tepat, gadget dapat diarahkan menjadi sarana edukasi yang bermanfaat. Keseimbangan antara penggunaan teknologi dan aktivitas nyata disebut menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental anak di era digital.