Gawai atau gadget kini menjadi bagian dekat dari kehidupan sehari-hari, tidak hanya bagi orang dewasa tetapi juga anak-anak. Di balik manfaat yang bisa diperoleh, penggunaan gawai juga berpotensi menimbulkan dampak negatif. Karena itu, pendampingan orang tua dinilai penting untuk meminimalisir bahkan menghindari dampak buruk, terutama pada usia anak.
Founder Sekolah Anak Autisme & Special Needs Dalta Ozora Madiun, Arif Budi Santoso, menjelaskan bahwa gawai dapat memberi sisi positif jika digunakan dengan tepat. Menurutnya, anak dapat menambah kosakata asing dan melatih artikulasi setelah menonton tayangan edukatif.
Arif juga menyoroti fenomena anak-anak masa kini yang kerap memiliki pengucapan bahasa Inggris lebih fasih karena sering mendengar penutur asli melalui kanal YouTube. Ia menilai hal tersebut bisa menjadi potensi yang baik apabila diarahkan, sehingga pendampingan orang tua tetap diperlukan.
Saat orang tua mendampingi anak mengakses gawai, interaksi dua arah dapat terbangun. Kondisi ini dinilai membantu membentuk relasi yang sehat antara anak dan orang tua, sekaligus mengasah kemampuan komunikasi timbal balik agar anak memahami cara merespons dengan baik.
Namun, Arif mengingatkan adanya tren orang tua memberikan gawai agar anak tenang atau tidak tantrum ketika orang tua sedang sibuk. Menurutnya, membiarkan anak mengeksplorasi gawai sendirian dapat menjadi awal munculnya dampak negatif yang kerap memengaruhi tumbuh kembang, termasuk risiko keterlambatan bicara.
Ia menekankan perlunya pendampingan aktif, terutama bagi anak yang sudah terlanjur terpapar gawai. Orang tua disarankan ikut menonton dan mengajak anak berdialog mengenai konten yang dilihat.
Selain pendampingan, pembatasan durasi juga dinilai penting untuk ditetapkan dan disampaikan kepada anak. Waktu penggunaan gawai dapat disesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak, termasuk bagi yang sudah bersekolah.
Arif turut menekankan pentingnya melibatkan anak dalam aktivitas fisik, seperti bermain bersama atau bercerita tentang kejadian sehari-hari. Aktivitas tersebut disebut dapat membantu melatih kemampuan mengingat dan logika berbahasa, sekaligus memotivasi anak untuk berkomunikasi langsung secara dua arah.
Dengan pendampingan yang tepat, Arif berharap penggunaan gawai pada anak dapat tetap menjadi alat bantu edukasi tanpa mengorbankan kemampuan komunikasi sosial.