BERITA TERKINI
Pemuda Desa Rejoagung Tulungagung Hidupkan Jaranan “New Karyo Mudo” untuk Kurangi Ketergantungan Gawai

Pemuda Desa Rejoagung Tulungagung Hidupkan Jaranan “New Karyo Mudo” untuk Kurangi Ketergantungan Gawai

Di tengah arus digital yang semakin kuat, sekelompok pemuda di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, berupaya menjaga jati diri budaya melalui kesenian tradisional. Mereka membentuk grup jaranan bernama “New Karyo Mudo” sebagai ruang berkegiatan sekaligus upaya mengurangi kecenderungan kecanduan gawai di kalangan generasi muda.

Inisiatif tersebut berangkat dari keprihatinan atas menurunnya interaksi sosial dan berkurangnya ketertarikan remaja terhadap warisan budaya karena terlalu larut dalam dunia maya. Seluruh personel “New Karyo Mudo” disebut berasal dari kalangan anak muda setempat yang memiliki komitmen untuk melestarikan kesenian tradisional.

Ketua Jaranan New Karyo Mudo, Ipang, mengatakan pembentukan grup ini ditujukan untuk menyediakan wadah kreativitas yang positif, baik secara fisik maupun mental. “Kami ingin mengakomodasi bakat seni anak-anak muda di sini. Di tengah gempuran teknologi, banyak yang mulai asing dengan budaya sendiri. New Karyo Mudo hadir agar mereka punya wadah berkreasi,” ujar Ipang saat ditemui di sela persiapan latihan, Kamis (19/3/2026).

Menurut Ipang, tantangan terbesar pada 2026 adalah meyakinkan generasi Z dan alfa bahwa kesenian tradisional seperti jaranan tetap relevan dan layak dibanggakan. Ia menilai semangat anak muda dapat memberi warna baru pada pertunjukan tanpa mengubah pakem yang ada.

Ia juga menilai keterlibatan langsung dalam latihan dan pementasan dapat menumbuhkan rasa bangga yang berbeda dibanding aktivitas digital. “Memang tidak mudah mengajak mereka lepas dari gadget. Namun, ini bukan sekadar hobi, tapi soal menjaga jati diri sebagai wong Tulungagung,” kata Ipang.

Sebagai hasil dari latihan yang telah dilakukan, “New Karyo Mudo” dijadwalkan menggelar penampilan perdana di Desa Rejoagung pada Rabu, 25 Maret 2026. Pementasan tersebut diharapkan menjadi hiburan bagi warga sekaligus pesan edukatif agar pemuda lain kembali melirik kekayaan budaya lokal.

Dukungan dari masyarakat dan orang tua di Desa Rejoagung disebut mengalir positif. Kegiatan kesenian ini dinilai lebih produktif dan menyehatkan dibanding bermain gim daring dalam durasi panjang.

Melalui kegiatan tersebut, para pemuda Desa Rejoagung menegaskan bahwa modernisasi tidak harus menggeser tradisi. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama dikelola dengan semangat kebersamaan.