BERITA TERKINI
Paspi Nilai Riset Sawit Perlu Lebih Aplikatif dan Berorientasi Pasar

Paspi Nilai Riset Sawit Perlu Lebih Aplikatif dan Berorientasi Pasar

JAKARTA — Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) menilai dukungan riset sektor kelapa sawit yang dibiayai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menunjukkan kemajuan. Namun, Paspi mendorong agar arah riset diperkuat menjadi lebih aplikatif sehingga mampu menjawab kebutuhan pasar dan persoalan nyata di industri.

Direktur Eksekutif Paspi Tungkot Sipayung mengatakan hingga 2025 BPDP telah mendanai sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek dari hulu hingga hilir. Riset itu antara lain meliputi pengembangan material berbasis sawit dan biomassa bernilai tambah tinggi, studi lingkungan perkebunan, serta kajian sertifikasi untuk mendorong keberlanjutan dan ekonomi sirkular.

“Riset yang dibiayai BPDP mulai dari hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. Dari sudut ini, komitmen BPDP dalam mendukung riset-riset sawit sangat jelas terlihat,” kata Tungkot di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Meski demikian, ia menilai efektivitas dukungan riset masih perlu diperkuat melalui evaluasi menyeluruh secara berkala. Menurutnya, evaluasi diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan berlanjut menjadi inovasi yang diterapkan di lapangan.

“Yang diperlukan industri sawit adalah inovasi bisnis. Agak ironi memang, riset-riset sawit semakin banyak tetapi produktivitas sawit stagnan bahkan menurun,” ujarnya.

Tungkot menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara hasil riset dan implementasi di industri. Ia mencontohkan penelitian mengenai penyakit ganoderma yang sudah banyak dilakukan, tetapi belum diikuti kebijakan nasional yang efektif dalam penanganannya.

“Inilah tantangan ke depan yang harus dilakukan bagaimana mempercepat implementasi hasil riset (invensi) menjadi inovasi bisnis dan kebijakan,” kata dia.

Ia juga menekankan perlunya perubahan pendekatan riset dari berbasis pasokan (supply-driven) menjadi berbasis kebutuhan pasar (market-driven). Dengan pendekatan itu, riset diharapkan menghasilkan solusi konkret, mulai dari peningkatan produktivitas dan efisiensi hingga pembukaan peluang produk dan pasar baru.

“Secanggih apa pun riset jika tidak bisa menghasilkan solusi bagi masalah riil yang dihadapi industri sawit, tidak banyak gunanya,” ujar Tungkot.

Selain aspek implementasi, Tungkot menyoroti peran riset dalam menghadapi kampanye negatif terhadap sawit di tingkat global. Menurutnya, persepsi publik yang memburuk dapat menjadi ancaman serius bagi masa depan industri bila tidak diimbangi dengan dukungan riset yang kuat.

“Kalau persepsi masyarakat tentang sawit semakin jelek dan dibiarkan berlarut-larut maka secara perlahan akan menghancurkan masa depan sawit. Era informasi saat ini jangan anggap enteng tentang persepsi,” katanya.