SENDAWAR – Panen padi bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Kelompok Tani Maju Bersama di Rapak Oros, Kampung Linggang Amer, menjadi hasil dari pengembangan pertanian berbasis riset. Varietas Inpara 02 dinilai paling adaptif dengan produktivitas mencapai 4,8 ton per hektare.
Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat, Stepanus Alexander Samson, menjelaskan inovasi tersebut berawal dari uji kelayakan lahan yang dilakukan pada 2024 bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional di Yogyakarta. Uji dilakukan terhadap empat varietas padi, yakni IPB 3S, Trisakti, Inpara 02, dan padi lokal, pada lahan seluas dua hektare untuk melihat varietas yang paling sesuai dengan kondisi Rapak Oros.
Menurut Stepanus, hasil uji menunjukkan Inpara 02 memiliki performa terbaik dengan produktivitas lebih tinggi dibandingkan padi ladang yang rata-rata sekitar 3 ton per hektare. Berdasarkan hasil kaji terap tersebut, pada 2025 pengembangan dilanjutkan dengan menetapkan Inpara 02 sebagai varietas unggulan dan diperluas pada lahan seluas 5 hektare.
Padi yang dipanen ditanam pada 8 Desember 2025 dan dipanen pada 26 Maret 2026, dengan masa tanam sekitar tiga bulan. Dengan siklus tersebut, penanaman dapat dilakukan dua hingga tiga kali dalam setahun.
Stepanus menyebut, dengan produktivitas 4,8 ton per hektare, hasil panen dua kali tanam dapat mencapai 9,6 ton per tahun, dan dapat mendekati 15 ton bila dilakukan tiga kali tanam. Dalam pengembangannya, budidaya padi ini juga menggunakan sistem tanam jajar legowo yang dinilai meningkatkan efisiensi lahan serta mengoptimalkan pertumbuhan tanaman.
Ia menegaskan keberhasilan ini merupakan hasil sinergi pemerintah daerah, peneliti, penyuluh, dan petani melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Ke depan, varietas Inpara 02 diharapkan terus dikembangkan untuk meningkatkan produksi padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Kutai Barat.