Panen padi bersama di kawasan Rapak Oros, Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), menjadi penanda keberhasilan pengembangan inovasi pertanian berbasis riset di daerah tersebut.
Kepala Dinas Pertanian Kubar, Stepanus Alexander Samson, mengatakan program ini dimulai pada 2024 melalui uji kelayakan tanah dan kesesuaian lahan yang dilakukan bersama peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Yogyakarta. Dalam uji tersebut, tim menanam empat varietas padi—IPB 3S, Trisakti, Inpara 02, dan padi lokal—di lahan seluas 2 hektare untuk menentukan varietas yang paling sesuai.
“Hasil uji menunjukkan produktivitas mencapai sekitar 4,8 ton per hektare. Ini lebih tinggi dibandingkan padi ladang yang rata-rata hanya sekitar 3 ton per hektare,” ujar Stepanus saat panen raya padi sawah di Rapak Oros, Kecamatan Linggang Bigung, Kamis, 26 Maret 2026.
Berdasarkan hasil uji tersebut, pemerintah daerah pada 2025 menetapkan Inpara 02 sebagai varietas unggulan karena dinilai paling adaptif dan produktif di lahan Rapak Oros. Pengembangan kemudian diperluas ke lahan 5 hektare. Penanaman dilakukan pada 8 Desember 2025 dan dipanen pada 26 Maret 2026, dengan masa tanam sekitar tiga bulan.
Dengan pola tanam tersebut, produksi padi berpeluang dilakukan dua hingga tiga kali dalam setahun. Jika produktivitas bertahan di kisaran 4,8 ton per hektare, potensi produksi tahunan diperkirakan mencapai 9,6 hingga mendekati 15 ton per hektare.
Dalam penerapannya, petani menggunakan sistem tanam jajar legowo untuk meningkatkan efisiensi lahan dan produktivitas tanaman.
Secara nasional, BRIN mendorong pengembangan pertanian berbasis riset melalui pendekatan evidence-based agriculture, yang menekankan penggunaan data ilmiah dalam setiap tahapan, mulai dari pemilihan varietas, pengolahan lahan, hingga teknik budidaya. BRIN juga mengembangkan berbagai varietas padi unggul yang adaptif terhadap kondisi spesifik lahan, termasuk lahan rawa dan lahan marginal, serta mendorong peningkatan indeks pertanaman melalui optimalisasi teknologi budidaya.
Hasil riset BRIN juga menunjukkan bahwa penerapan varietas unggul yang tepat, didukung teknologi budidaya seperti jajar legowo, dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dibandingkan metode konvensional.
Keberhasilan di Rapak Oros dinilai menjadi contoh penerapan hasil riset nasional di tingkat daerah, sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, peneliti, penyuluh, dan petani. Pemerintah Kabupaten Kutai Barat berharap inovasi berbasis riset ini terus dikembangkan untuk mempercepat peningkatan produksi padi dan memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan.