Gawai kini tidak lagi sekadar alat bantu. Pada anak-anak, perangkat ini kian sering menjadi “ruang hidup kedua” yang membentuk cara berpikir, emosi, hingga pola interaksi. Di sisi lain, muncul paradoks: teknologi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia justru berpotensi melemahkannya bila digunakan tanpa kendali.
Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd. menyebut fenomena tersebut sebagai realitas global yang juga terjadi di Indonesia. Ia menjelaskan, dampak teknologi pada anak dapat terbagi menjadi dua. “Dampak positifnya ketika anak-anak fokus belajar konten materi, seperti bahasa atau video edukasi, itu justru bagus,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (29/4/2026).
Menurut Arina, lanskap digital memberi anak akses belajar yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Konten visual interaktif, video pembelajaran, hingga gim edukatif dapat menjadi medium akselerasi kognitif. Ia menilai tayangan berbahasa asing seperti kartun atau video edukasi juga bisa menjadi stimulus untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak.
Namun, Arina mengingatkan adanya risiko ketika penggunaan gawai tidak terkelola. Anak dapat terjebak dalam stimulasi berlebih yang minim makna: aktif secara visual, tetapi pasif secara kognitif.
Ia mencontohkan anak yang tenggelam dalam gim digital. “Anak-anak itu terlena. Dipanggil orang tuanya saja tidak dengar karena fokus bermain,” katanya. Kondisi ini, menurutnya, menunjukkan disrupsi atensi ketika fokus anak tersedot ke layar dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya.
Dampak penggunaan gawai yang tidak terkendali dinilai tidak berhenti pada perilaku sesaat. Arina menyebut dalam jangka panjang dapat terjadi penurunan kemampuan komunikasi. Anak menjadi minim respons, rendah inisiatif, dan cenderung hanya menjadi konsumen informasi. “Dia hanya menerima, menikmati, tapi tidak tumbuh inisiatif,” ujarnya.
Arina juga mengaitkan persoalan ini dengan cara kerja otak yang tidak memperoleh stimulasi seimbang. Paparan layar yang bersifat satu arah dinilai membuat proses berpikir tidak terasah optimal. Ia menyinggung potensi melemahnya fungsi saraf bila paparan terjadi terlalu sering. “Kalau terlalu sering, itu bisa melemahkan saraf. Dendrit di otak lama-lama tidak berkembang maksimal,” katanya.
Di sisi lain, Arina menyoroti paradoks pada anak dengan kecerdasan tinggi. Anak yang berpikir cepat, menurutnya, justru berpotensi mengalami stagnasi sosial karena merasa cukup belajar dari apa yang dilihat di layar, sehingga mengabaikan interaksi dan pembelajaran konvensional. “Kadang anak seperti ini terlihat malas, padahal dia merasa sudah tahu lebih dulu,” ujarnya.
Kondisi tersebut dapat membentuk karakter yang cenderung introver ekstrem, eksklusif, dan kurang terhubung dengan lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, Arina menilai hal ini bisa menciptakan kesenjangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial.
Di tengah kompleksitas itu, Arina menegaskan peran keluarga—terutama orang tua—sebagai “control tower” dalam pengasuhan digital. Ia menekankan pentingnya manajemen penggunaan teknologi di rumah. “Orang tua harus tahu manajemen penggunaan teknologi di rumah. Karena ibu adalah madrasah pendidikan,” ujarnya.
Menurut Arina, pendidikan tidak bisa hanya bertumpu pada institusi formal. Ia mendorong adanya intervensi lebih sistematis melalui kurikulum informal bagi orang tua, misalnya dalam bentuk buku saku atau panduan praktis. Panduan itu dapat memuat strategi pengasuhan di era digital, mulai dari pengaturan waktu layar, pola komunikasi efektif, hingga teknik membangun ikatan emosional tanpa ketergantungan pada gadget.
“Harapannya tidak hanya ada kurikulum di sekolah, tetapi juga di rumah. Orang tua punya panduan jelas,” kata Arina. Ia menilai langkah tersebut sebagai investasi jangka panjang agar anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang kuat.
Arina juga menekankan pentingnya keteladanan. Regulasi tanpa contoh, menurutnya, hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendorong kebijakan sederhana di rumah seperti pembatasan penggunaan gawai dan penerapan hari tanpa gawai. “Kalau bisa, hari Minggu anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh,” ujarnya.
Momentum tanpa gadget, menurut Arina, dapat menjadi ruang untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh layar melalui interaksi langsung, percakapan, dan aktivitas bersama.
Pada akhirnya, gawai menghadirkan paradoks: bisa menjadi akselerator kecerdasan sekaligus pemicu degradasi potensi jika tidak dikelola. Arina menilai kuncinya terletak pada keselarasan pembelajaran di sekolah dan di rumah. “Kalau pembelajaran di sekolah dan di rumah berjalan selaras, maka generasi Indonesia bisa kita siapkan maksimal,” katanya.
Di tengah arus digital yang kian deras, pertanyaan utama bukan lagi sekadar boleh atau tidaknya anak menggunakan gadget, melainkan siapa yang memegang kendali atas penggunaannya.