MyRepublic Indonesia menyatakan pelanggan layanan internet fixed wireless access (FWA) MyRepublic Air tidak diwajibkan membeli router. Perusahaan menyediakan opsi sewa router dengan biaya Rp15.000 per bulan bagi pelanggan yang tidak ingin membeli perangkat tersebut.
Chief Sales & Marketing Officer MyRepublic, Iman Syahrizal, mengatakan layanan yang kerap disebut “internet rakyat” itu saat ini sudah dapat digunakan di empat kota, yakni Bali, Makassar, Lampung, dan Pekanbaru. “Terkait dengan pelanggan yang bisa on air ya dalam beberapa hari ini tentu saat ini masih di 4 kota itu ada di Bali, Makassar, kemudian di Lampung, dan di Pekanbaru. Nah, tentu hari-hari berikutnya akan bertambah,” ujar Iman dalam Media Gathering & Launching MyRepublic Air di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
MyRepublic Air ditawarkan dengan harga sekitar Rp100 ribuan per bulan untuk kecepatan 100 Mbps. Iman juga menyebut layanan ini dapat digunakan untuk lima perangkat di rumah, serta jaringan dapat diakses di delapan site pada wilayah yang telah tersedia. Calon pelanggan yang berada di sekitar site tersebut disebut dapat langsung terhubung ke layanan internet.
Terkait perangkat, MyRepublic memberikan dua pilihan. Pelanggan dapat membeli router seharga Rp800.000 yang menjadi hak milik, dengan biaya layanan internet Rp100.000 per bulan. Alternatifnya, pelanggan dapat menyewa router Rp15.000 per bulan, sehingga total biaya bulanan menjadi Rp115.000. “Kalau beli router harganya Rp800.000 dan sudah jadi hak milik, serta harga bulanan layanan internetnya Rp100.000 per bulan,” kata Iman. “Tetapi jika tidak ingin membeli router maka kami sediakan sistem sewa Rp15.000 per bulan. Jadi, biaya sewa router dan layanan internet ditotal menjadi Rp115.000 per bulan,” lanjutnya.
Sebelumnya, MyRepublic membuka tahap pra-registrasi MyRepublic Air pada Februari. Iman tidak merinci jumlah pelanggan yang melakukan pra-pemesanan, namun menyebut minat yang masuk telah mencapai puluhan ribu. “Itu sudah puluhan ribu ribu leads tapi tentu kan ketika pra-registrasi. Kita follow up begitu kota-kota dan site-nyasemuanya ready for sales,” ujarnya.
Dari sisi kesiapan jaringan, paket ini diluncurkan setelah MyRepublic memenangkan jaringan 1,4 Ghz bersama Surge pada Oktober 2025. MyRepublic memenangkan dua regional, yakni regional II (Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara) serta regional III (Kalimantan dan Sulawesi).
Chief Technology Officer MyRepublic, Hendra Gunawan, mengatakan perusahaan membutuhkan persiapan panjang karena teknologi jaringan tersebut baru pertama kali diterapkan di Indonesia. “Jadi kita desain bareng-bareng dengan vendor, spesifikasi seperti apa dan itu butuh waktu jadi vendor-vendor ini pun juga ready dengan produk untuk 1,4 dan itu butuh waktu,” kata Hendra.
Hendra menambahkan, Kementerian Komunikasi dan Digital menetapkan persyaratan agar wilayah yang didapatkan menjalani Uji Laik Operasi terlebih dahulu sebelum layanan dapat dikomersialisasikan. “Dari sisi Komdigi juga memberikan persyaratan yang sangat-sangat ketat jadi 9 zona yang kita dapet dari 2 region ini harus diulokan dan itu kan membutuhkan waktu dari teman-teman Komdigi dari teman-teman juga dari vendor untuk persiapan itu semua jadi kita harus lulus uji laik operasi dulu di semua kota, baru bisa kitamelakukan komersialisasi produk ini,” ujarnya.