Jakarta — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak keluarga memanfaatkan momentum mudik dan libur Lebaran untuk memperkuat interaksi langsung antara orang tua dan anak dengan mengurangi penggunaan gawai.
Menurut Meutya, masa libur Lebaran bisa menjadi kesempatan bagi keluarga membangun komunikasi yang lebih intensif di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital. Ia mendorong keluarga menghabiskan lebih banyak waktu bersama selama liburan.
“Gunakan momen liburan dan mudik ini untuk sebanyak-banyaknya menghabiskan waktu bersama keluarga. Gadgetnya bisa dimatikan dulu atau setidaknya dikurangi,” ujar Meutya di Jakarta Pusat, Rabu.
Meutya juga mengingatkan bahwa pemerintah tengah menuju implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), yang akan berlaku efektif pada 28 Maret 2026.
Ia menilai momentum libur Lebaran dapat menjadi langkah awal bagi orang tua untuk membimbing anak mengurangi ketergantungan pada media sosial, terutama bagi anak di bawah usia 16 tahun.
“Untuk anak-anak di bawah 16 tahun, kita juga sedang menuju implementasi kebijakan yang akan efektif pada 28 Maret nanti. Sejak sekarang mungkin bisa mulai berlatih perlahan-lahan keluar dari media sosial dengan bimbingan orang tua,” kata Meutya.
Menurutnya, perubahan pola penggunaan teknologi digital membutuhkan kesiapan keluarga. Karena itu, peran orang tua dalam meliterasi anak melalui pendidikan mengenai digitalisasi yang bertanggung jawab dinilai krusial untuk mendukung kesiapan anak mengikuti anjuran dalam PP Tunas.
Meutya menambahkan, komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak dapat mempermudah proses tersebut. Ia menyebut libur Lebaran sebagai waktu yang tepat untuk membangun dialog yang lebih terbuka di dalam keluarga.
“Mungkin selama libur Lebaran ini adalah waktu yang baik untuk berbicara dari hati ke hati antara orang tua dan anak untuk mulai melakukan persiapan,” ujarnya.
Ia berharap mudik dan libur Lebaran dapat dimanfaatkan keluarga untuk memperbanyak aktivitas bersama, sehingga anak-anak lebih banyak berinteraksi secara langsung tanpa ketergantungan pada perangkat digital.