SIDOARJO — Menjelang pemilihan kepala desa (Pilkades) di Kabupaten Sidoarjo yang dijadwalkan berlangsung pada Mei mendatang, para kandidat mulai menyiapkan beragam strategi untuk meraih dukungan warga. Di tengah aktivitas kampanye di lapangan, muncul satu faktor yang dinilai kerap luput diperhatikan: keberadaan dan keterlihatan kandidat di ruang digital.
Seiring perubahan perilaku masyarakat, pengenalan terhadap calon pemimpin tidak lagi hanya bergantung pada baliho atau pertemuan langsung. Sebagian warga kini terbiasa mencari nama kandidat melalui mesin pencari, membaca pemberitaan, hingga bertanya lewat platform berbasis kecerdasan buatan (AI).
Dalam kondisi ini, jejak digital menjadi penentu awal terbentuknya persepsi publik. Ketika nama kandidat dicari namun tidak ditemukan informasi yang jelas, tidak ada rekam jejak digital, atau bahkan tidak muncul sama sekali, kepercayaan pemilih dinilai lebih sulit dibangun. Padahal, kandidat tersebut bisa saja memiliki kapasitas, pengalaman, dan niat baik untuk membangun desa.
Fenomena tersebut mulai menjadi perhatian pegiat digital di Sidoarjo. Salah satunya disampaikan Zarnuzi Fustatul, yang akrab disapa Mas Zar, anak muda asal Sidoarjo yang dikenal aktif membantu sejumlah tokoh membangun reputasi di dunia digital.
Menurut Mas Zar, di era saat ini kepercayaan publik tidak hanya dibentuk dari aktivitas di lapangan, tetapi juga dari bagaimana seseorang terlihat di internet. “Hari ini, masyarakat bisa langsung mencari informasi tentang calon pemimpin mereka. Apa yang muncul di internet, itu yang membentuk persepsi,” ujarnya.
Ia menilai banyak kandidat sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum memanfaatkan strategi digital secara maksimal. Melalui pendekatan berbasis media dan teknologi AI, kandidat dapat membangun citra yang lebih kuat, mulai dari liputan media, penyusunan narasi yang tepat, hingga memastikan informasi mudah ditemukan di berbagai platform digital.
Di tengah masyarakat yang semakin terbiasa mengakses informasi secara daring, kehadiran di internet disebut bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Dalam situasi ini, perbedaan hasil kontestasi tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling mampu, melainkan siapa yang lebih dulu dikenal dan dipercaya.