BERITA TERKINI
Mendiktisaintek Dialog dengan 84 Akademisi Diaspora di Australia, Dorong Kolaborasi Riset dan Transformasi Pendidikan Tinggi

Mendiktisaintek Dialog dengan 84 Akademisi Diaspora di Australia, Dorong Kolaborasi Riset dan Transformasi Pendidikan Tinggi

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menggelar dialog strategis dengan 84 akademisi diaspora Indonesia di Australia yang tergabung dalam Indonesian Academics Research Network Australia (IARNA). Pertemuan ini difokuskan untuk memperkuat kolaborasi riset, inovasi, serta pengembangan sumber daya manusia antara Indonesia dan Australia.

Dalam dialog tersebut, Brian menegaskan diaspora Indonesia merupakan mitra strategis yang dapat menjembatani Indonesia dengan jaringan akademik dan industri global. Menurutnya, peran diaspora dinilai penting untuk mempercepat inovasi dan transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.

Sejumlah isu menjadi perhatian utama dalam pembahasan, mulai dari hilirisasi mineral strategis dan rare earth bersama industri Australia, penguatan ketahanan pangan berbasis penelitian, pengembangan produk kosmetik dari biodiversitas lokal, hingga pengelolaan sampah melalui pendekatan teknologi dan sosial budaya. Diskusi juga mencakup penguatan kerja sama industri-kampus, termasuk dengan badan usaha milik negara (BUMN).

Selain topik tersebut, forum turut mengeksplorasi peluang kerja sama konkret, antara lain mekanisasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi, pengembangan critical minerals seperti nikel dan lithium untuk kendaraan listrik, riset biomedis dan kesehatan, kolaborasi maritim, serta pemanfaatan teknologi drone.

Brian menyampaikan harapannya agar riset dan pendidikan tinggi tidak berhenti pada produksi teori, melainkan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan bagi masyarakat dan industri. Ia menilai diaspora dapat berperan sebagai katalis untuk mendorong arah tersebut.

Di kesempatan lain, Duta Besar Indonesia untuk Australia Siswo Pramono menyoroti momentum pasca IA-CEPA sebagai peluang memperluas kolaborasi kedua negara. Ia menyebut pelibatan diaspora akademik menjadi salah satu kunci agar kerja sama pendidikan tinggi dan riset dapat menghasilkan dampak yang lebih besar.

Sejalan dengan strategi Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyiapkan skema pelibatan diaspora sebagai visiting professor, research coach, atau kolaborator riset di perguruan tinggi Indonesia. Skema ini ditujukan untuk membimbing peneliti muda, menghasilkan publikasi bersama, serta mendorong inovasi riset terapan.

Para akademisi diaspora juga menyampaikan masukan terkait pentingnya keseimbangan antara riset dasar, riset terapan, dan pengembangan produk. Brian menyatakan seluruh masukan dari forum tersebut akan ditindaklanjuti untuk memperkuat kebijakan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi ke depan.

Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya memperluas kemitraan internasional, memperkuat hilirisasi riset, serta memastikan program pendidikan tinggi dan pengembangan sains memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.