Transformasi digital di dunia pendidikan mendorong sekolah dan perguruan tinggi memperkuat kolaborasi, termasuk dalam pengembangan kompetensi guru. Di MTs Almaarif 01 Singosari, Kabupaten Malang, sebanyak 40 guru mengikuti Workshop Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbasis Artificial Intelligence (AI) yang digelar Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Departemen Matematika Universitas Negeri Malang.
Kegiatan ini diinisiasi tiga mahasiswa S3 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang, yakni Konstantinus Denny Pareira Meke, Ulfa Masamah, dan Wiga Ariani. Mereka berkolaborasi dengan tim dosen yang dipimpin Dr.rer.nat. I Made Sulandra, M.Si., serta didukung Dr. Tomi Listiawan, S.Si., M.Pd., Mohammad Agung, S.Pd., M.Sc., dan Azizah, S.Pd., M.Si.
Workshop dirancang tidak hanya membahas teori, tetapi juga praktik pemanfaatan AI untuk membantu guru menyusun proposal PTK yang lebih sistematis, relevan, dan adaptif terhadap tantangan pembelajaran abad ke-21. Dalam sambutannya, I Made Sulandra menegaskan penggunaan AI dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas guru, bukan menggantikan peran mereka. “Pemanfaatan AI dalam penyusunan PTK bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi untuk memperkuat kapasitas mereka dalam merancang penelitian yang lebih tajam dan berdampak,” ujarnya. Ia juga membuka peluang kolaborasi lanjutan antara sekolah dan kampus sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan.
Kepala MTs Almaarif 01 Singosari, Dwi Retno Palupi, M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada tim PKM Departemen Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, workshop ini relevan untuk meningkatkan kompetensi penelitian guru sekaligus membantu mereka beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Ia juga berharap kolaborasi dapat berlanjut dan memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta disampaikan oleh Dr. Tomi Listiawan sebagai pemateri utama. Ia memperkenalkan strategi penggunaan prompt terstruktur agar guru dapat menghasilkan draf proposal lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas akademik. “AI adalah alat bantu, bukan jalan pintas. Kekuatan utama tetap pada pemahaman metodologi penelitian yang baik,” tegasnya.
Dalam sesi praktik, peserta menggunakan berbagai platform AI untuk menyusun komponen penting PTK, mulai dari identifikasi masalah pembelajaran, perumusan tujuan, hingga penyusunan instrumen penelitian. Pendampingan intensif diarahkan agar guru tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikan teknologi secara mandiri. Antusiasme terlihat ketika peserta berhasil menghasilkan draf proposal dengan bantuan AI dalam waktu relatif singkat.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan bedah proposal PTK yang dipandu I Made Sulandra. Dalam sesi ini, proposal peserta ditelaah dari latar belakang hingga metodologi penelitian, sekaligus memberi ruang refleksi dan perbaikan yang lebih konkret. Pendekatan tersebut dinilai membantu peserta membangun pemahaman konseptual terhadap penelitian tindakan kelas.
Workshop ini menjadi bagian dari komitmen Departemen Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang dalam pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada dampak dan keberlanjutan. Di tengah meningkatnya tuntutan kualitas pembelajaran, pemanfaatan AI dinilai membuka peluang, namun tetap perlu digunakan secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab.
Kegiatan yang berlangsung pada 10 April 2026 ini menandai upaya membangun ekosistem pembelajaran yang kolaboratif dan berbasis teknologi melalui sinergi kampus dan sekolah, dimulai dari penguatan kapasitas guru di ruang kelas.