BERITA TERKINI
Lonjakan Harga Diesel Dorong Operator Telekomunikasi Afrika Beralih ke Tenaga Surya

Lonjakan Harga Diesel Dorong Operator Telekomunikasi Afrika Beralih ke Tenaga Surya

Lonjakan harga bahan bakar yang dipicu ketegangan geopolitik global mulai mengubah strategi industri telekomunikasi di Afrika. Operator seluler di sejumlah negara mempercepat migrasi energi dengan mengurangi ketergantungan pada diesel dan beralih ke tenaga surya demi menjaga keberlanjutan layanan jaringan.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gejolak pasokan energi dunia, termasuk kenaikan tajam harga diesel. Padahal, diesel selama ini menjadi sumber listrik utama bagi ratusan ribu menara telekomunikasi di Afrika. Bagi kawasan yang masih menghadapi keterbatasan jaringan listrik nasional, tekanan biaya energi ini berpengaruh langsung terhadap stabilitas konektivitas digital.

Di banyak negara Afrika, menara seluler menjadi infrastruktur penting untuk mendukung layanan keuangan digital, pendidikan, hingga komunikasi darurat. Ketika harga bahan bakar melonjak, risiko gangguan layanan tidak hanya berdampak pada perusahaan telekomunikasi, tetapi juga pada aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada koneksi internet dan layanan seluler.

Pakar energi Afrika dari GSMA, Lande Abudu, menilai ketidakpastian harga dan pasokan energi memaksa perusahaan meninjau ulang strategi operasional. Menurut dia, diesel selama ini selalu menjadi komponen biaya utama, namun perkembangan global terbaru membuat harganya semakin fluktuatif. Kondisi tersebut, kata Abudu, memperkuat alasan untuk segera beralih ke solusi hibrida dan tenaga surya.

Secara historis, sebagian besar menara telekomunikasi di Afrika bergantung pada generator diesel karena terbatasnya infrastruktur listrik nasional. Berbeda dengan negara maju seperti Amerika Serikat atau India, yang banyak menaranya terhubung langsung ke jaringan listrik, operator di berbagai wilayah Afrika kerap harus memproduksi listrik sendiri agar jaringan tetap beroperasi.

Respons industri terlihat melalui peningkatan investasi energi terbarukan. Perusahaan infrastruktur Atlas Tower Kenya mengumumkan investasi sebesar 52,5 juta dolar AS, atau sekitar Rp840 miliar, untuk membangun 300 menara baru berbasis tenaga surya. Saat ini, 82 persen dari 500 menara milik perusahaan tersebut telah menggunakan energi matahari.

Tekanan biaya energi juga dialami operator lain. Vodacom Afrika melaporkan biaya energi meningkat 5 persen menjadi 300 juta dolar AS pada 2025, seiring kenaikan tarif listrik dan harga bahan bakar di wilayah operasinya, termasuk Afrika Selatan, Mesir, dan Ethiopia.

Sejumlah perusahaan memilih langkah mitigasi melalui pembiayaan hijau. Safaricom menghimpun dana obligasi hijau senilai 153,6 juta dolar AS untuk mempercepat konversi menara ke energi surya. Sementara di Nigeria, tekanan semakin besar setelah penghapusan subsidi bahan bakar pada 2023, ditambah lonjakan harga global yang membuat harga diesel naik hingga 200 persen dalam satu tahun. Operator di negara tersebut diperkirakan menghabiskan sekitar 400 juta dolar AS per tahun hanya untuk menjaga menara tetap beroperasi.