JAMBI — Pemandangan pelajar memegang smartphone kini menjadi hal lumrah. Namun, di balik kemudahan akses teknologi, muncul fenomena yang dinilai mengkhawatirkan: banyak orang terlihat mahir menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi kesulitan mencerna informasi secara kritis. Kondisi ini menegaskan tantangan besar di ranah pendidikan dan sosial, yakni rendahnya literasi digital.
Selama ini, literasi digital kerap disalahartikan sebatas kemampuan teknis, seperti mengoperasikan aplikasi atau aktif di media sosial. Padahal, literasi digital juga mencakup kemampuan kognitif untuk menilai informasi secara cermat dan kritis.
Di media sosial, arus informasi mengalir cepat tanpa penyaringan. Ketika kemampuan analisis lemah, seseorang berisiko terjebak dalam echo chamber, situasi ketika individu hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya dan menolak fakta yang berbeda. Dampaknya dapat terlihat dalam bentuk polarisasi, perdebatan tanpa substansi di kolom komentar, hingga penyebaran hoaks yang merugikan publik.
Dalam dunia pendidikan, digitalisasi menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, akses pengetahuan terbuka luas. Di sisi lain, muncul persoalan seperti cyberbullying dan penurunan daya konsentrasi akibat paparan konten berdurasi pendek. Paparan konten yang serba cepat juga disebut dapat memengaruhi kemampuan otak dalam memproses informasi secara mendalam, sehingga siswa cenderung menyukai hasil instan dan enggan melakukan riset yang lebih serius.
Situasi tersebut turut mendorong perubahan orientasi pendidikan. Kurikulum mulai bergeser dari penekanan pada hafalan menuju penguatan kemampuan berpikir kritis, agar siswa lebih terlatih menilai informasi dan mengambil kesimpulan secara bertanggung jawab.
Selain aspek logika, dimensi etika dalam ruang digital juga menjadi perhatian. Di balik layar ponsel, sebagian orang merasa anonim dan akhirnya kehilangan empati saat berkomentar. Karena itu, pendidikan karakter di sekolah menghadapi tugas tambahan: menanamkan kesadaran bahwa ada manusia nyata di balik setiap akun, serta menegaskan bahwa sopan santun di dunia nyata perlu selaras dengan perilaku di dunia maya.
Pada akhirnya, menghadapi masa depan tidak berarti menjauhi teknologi, melainkan memperkuat benteng mental penggunanya. Literasi digital dipandang sebagai kunci agar teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber perpecahan. Upaya ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru, tetapi juga membutuhkan peran orang tua serta lingkungan sosial untuk membangun ekosistem digital yang sehat.