Ledakan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mendorong inovasi teknologi, tetapi juga mengubah peta kekayaan global. Sejumlah tokoh besar seperti Jensen Huang dari Nvidia dan Sam Altman dari OpenAI disebut ikut menikmati lonjakan nilai industri AI yang kian besar.
Di luar nama-nama mapan tersebut, gelombang AI juga melahirkan miliarder baru dari perusahaan rintisan yang sebelumnya kurang dikenal. Dalam setahun terakhir, lonjakan valuasi startup berbasis AI membuat kepemilikan saham para pendiri dan eksekutif muda meningkat tajam, bahkan dalam waktu relatif singkat.
Namun, laporan The New York Times mengingatkan bahwa sebagian kekayaan para pendiri ini masih bersifat “di atas kertas” karena bertumpu pada valuasi perusahaan. Ketahanan bisnis dan kemampuan membuktikan produk dinilai akan menjadi faktor penentu apakah kekayaan tersebut dapat bertahan saat euforia pasar mereda.
Salah satu nama yang mencuat adalah Mira Murati, mantan eksekutif OpenAI yang mendirikan Thinking Machines Lab pada Februari 2025. Meski perusahaan ini masih sangat muda, valuasinya disebut mencapai sekitar 10 miliar dollar AS atau setara Rp 167,74 triliun. Kenaikan valuasi itu terjadi bahkan sebelum perusahaan meluncurkan produk secara luas, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap rekam jejak Murati dan potensi teknologi yang dikembangkan.
Nama lain adalah Brett Adcock, pendiri Figure AI pada 2022. Perusahaan ini berfokus mengembangkan robot humanoid berbasis AI. Seiring meningkatnya minat industri terhadap otomatisasi fisik, valuasi Figure AI melesat, dengan kekayaan bersih Adcock diperkirakan mencapai 19,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 327,09 triliun.
Sementara itu, Aravind Srinivas mendirikan Perplexity pada 2022 sebagai mesin pencari berbasis AI generatif. Dalam waktu singkat, perusahaan tersebut tumbuh dan kini memiliki valuasi sekitar 20 miliar dollar AS atau setara Rp 335,48 triliun. Meski masuk jajaran miliarder baru, Srinivas disebut kerap menekankan bahwa visi Perplexity berfokus pada pencarian pengetahuan dan kualitas informasi, bukan semata akumulasi kekayaan pribadi.
Deretan nama ini menunjukkan bagaimana valuasi perusahaan AI dapat mengangkat pendiri startup ke jajaran orang terkaya dalam waktu cepat. Meski demikian, arah perkembangan bisnis dan pembuktian produk akan menentukan apakah kekayaan berbasis valuasi tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.