Di tengah koordinasi serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran, gangguan besar juga dilaporkan terjadi pada ranah digital. Infrastruktur internet Iran disebut mengalami masalah serius, dengan lalu lintas internet nasional turun drastis dan sejumlah layanan komunikasi serta layanan elektronik nyaris terhenti.
Organisasi pemantau konektivitas global NetBlocks melaporkan bahwa lalu lintas internet di Iran pada beberapa waktu sempat merosot hingga sekitar 4% dari tingkat normal. Sejumlah situs berita resmi, termasuk IRNA dan Tasnim, dilaporkan mengalami gangguan atau menampilkan pesan yang tidak menentu.
Gangguan turut dirasakan pada berbagai aplikasi domestik dan layanan elektronik pemerintah di sejumlah kota besar, seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa gangguan jaringan tidak hanya berdampak pada komunikasi publik, tetapi juga pada layanan-layanan penting yang digunakan masyarakat.
Analis menilai penyebab insiden tersebut belum jelas. Dugaan yang muncul mencakup kemungkinan pembatasan konektivitas yang diamanatkan negara atau serangan siber berskala besar yang menargetkan infrastruktur penting, sebagaimana dikutip VNA. Sejumlah sumber Barat meyakini “front digital” ini ditujukan untuk melumpuhkan sistem komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam Iran, sehingga membatasi kemampuannya mengoordinasikan serangan balasan.
Sejumlah skenario serangan yang disebutkan antara lain serangan distributed denial-of-service (DDoS) yang memicu kemacetan jaringan luas, intrusi ke sistem energi dan penerbangan, serta peperangan elektronik yang mengganggu navigasi dan komunikasi.
Dengan kendali yang ketat atas ruang siber, gangguan jaringan di Iran dinilai dapat berdampak ganda: memengaruhi operasi militer sekaligus langsung mengganggu kehidupan sipil. Para ahli menilai perang siber dapat memberi tekanan besar tanpa harus segera meningkat menjadi konflik skala penuh. Namun, mereka juga mengingatkan adanya risiko salah perhitungan, terutama jika serangan menyasar infrastruktur seperti listrik, penerbangan, atau keuangan yang dapat mengacaukan aktivitas sosial dalam waktu singkat.
Dari pihak Teheran, opsi respons yang dibahas disebut mencakup serangan siber terhadap infrastruktur AS dan sekutunya, pengacauan sinyal drone, hingga peningkatan tekanan di Selat Hormuz atau melalui pasukan proksi di kawasan. Setiap opsi dinilai membawa risiko eskalasi ketegangan yang sulit dikendalikan.
Perkembangan ini mempertegas bahwa peperangan modern tidak lagi terbatas pada medan tempur. Server, satelit, dan kode sumber menjadi elemen penting yang setara dengan persenjataan konvensional. Penurunan kapasitas internet nasional hingga sekitar 4% dalam hitungan jam menjadi sinyal bahwa ketahanan infrastruktur digital kini turut menentukan daya tahan sebuah negara dalam situasi krisis.