PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel/MTEL), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), membukukan laba bersih Rp 545,05 miliar pada kuartal pertama 2026. Perolehan tersebut meningkat 3,56% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 526,31 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan Mitratel pada Januari–Maret 2026 tercatat Rp 2,29 triliun, naik 1,39% yoy dari Rp 2,26 triliun. Sementara itu, EBITDA margin berada di level 82,7%.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menyatakan pengembangan ekosistem terintegrasi seperti Fixed Wireless Access (FWA) dan Power-as-a-Service (PaaS) menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pemerataan konektivitas digital di Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut juga ditujukan untuk mendukung pasokan energi yang andal bagi operasional jaringan, terutama di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur listrik.
“Mitratel mengawali tahun 2026 dengan kinerja yang solid, seiring implementasi strategi ekspansi yang terarah untuk memperluas konektivitas digital di seluruh Indonesia,” ujar Theodorus dalam keterangannya, dikutip Senin (4/5).
Theodorus menambahkan, Mitratel memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur digital sekaligus mendukung percepatan program Internet Rakyat melalui pengembangan FWA. Ia mengatakan transformasi bisnis perseroan tidak lagi terbatas pada pembangunan menara telekomunikasi, melainkan bergerak menuju model Next Generation TowerCo dengan memperluas layanan beyond tower yang terintegrasi.
Selain memperkuat ekosistem FWA berbasis jaringan fiber optic, Mitratel juga mengembangkan layanan melalui usulan penambahan kegiatan usaha Power-as-a-Service (PaaS) sebagai bagian dari strategi menghadirkan solusi infrastruktur yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Sepanjang kuartal pertama 2026, Mitratel mengelola 40.327 menara, tumbuh 1,9% secara tahunan. Lebih dari 59% portofolio menara berada di luar Pulau Jawa, termasuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), sejalan dengan fokus ekspansi untuk pemerataan infrastruktur nasional.
Pertumbuhan kolokasi tercatat 11,3% menjadi 23.006 unit, disertai kenaikan tenancy ratio ke level 1,57 kali. Perseroan menilai capaian tersebut mencerminkan meningkatnya pemanfaatan aset dan kepercayaan operator seluler terhadap kualitas infrastruktur Mitratel.
Di sisi jaringan, panjang fiber optic Mitratel meningkat 17,3% menjadi 72.842 km billable length, yang mendukung pengembangan Fiber-to-the-Tower (FTTT). Theodorus menyebut Mitratel memiliki fleksibilitas untuk melanjutkan ekspansi baik secara organik maupun melalui peluang anorganik secara selektif sepanjang 2026.
Ke depan, Mitratel menilai posisinya strategis untuk menangkap peluang dari percepatan penggelaran jaringan 5G di Indonesia. Perseroan berencana mendorong densifikasi menara, memperkuat fiberisasi, serta mengembangkan layanan Power-as-a-Service untuk mendukung kebutuhan kapasitas, keandalan energi, dan latensi rendah.