Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Banten menilai kecanduan gadget pada anak tidak semata-mata dipicu oleh lamanya waktu penggunaan gawai, tetapi juga dipengaruhi perilaku orang tua di rumah. Pola pengasuhan yang kurang tepat dinilai dapat membuat anak meniru kebiasaan orang tua yang terlalu sering menggunakan handphone dalam keseharian.
Kepala KPAI Banten, Hendry Gunawan, menjelaskan masih banyak orang tua yang melarang anak bermain handphone, namun tak lama kemudian justru kembali memainkan gadget di depan anak. Situasi ini, menurutnya, membuat anak menganggap penggunaan handphone secara terus-menerus sebagai hal yang wajar.
“Anak itu melihat dan mencontoh. Kalau orang tua melarang tapi kemudian bermain handphone juga, anak akan bingung. Akhirnya anak merasa penggunaan gadget itu memang hal biasa,” ujar Hendry kepada RRI, Jumat, 8 Mei 2026.
Hendry menekankan bahwa anak memiliki kemampuan meniru yang kuat terhadap lingkungan terdekat, terutama orang tua. Karena itu, orang tua diminta memberi contoh yang baik dalam penggunaan gadget. Saat orang tua menggunakan laptop atau handphone untuk bekerja, mereka disarankan menjelaskan kepada anak bahwa perangkat tersebut dipakai untuk pekerjaan, bukan sekadar hiburan.
KPAI Banten juga menyoroti pentingnya orang tua masuk ke dalam dunia anak, termasuk memahami permainan atau tontonan yang disukai. Dengan cara tersebut, komunikasi dinilai lebih mudah terbangun dan anak tidak merasa sendirian dalam dunianya sendiri.
Orang tua bahkan disarankan sesekali bermain gim bersama anak untuk membangun kedekatan emosional. Hendry menilai pengawasan digital tidak cukup hanya mengandalkan fitur parental control atau pembatasan aplikasi, karena pendampingan langsung tetap menjadi faktor utama.
KPAI mengingatkan, anak yang dibiarkan terus bermain gadget tanpa pengawasan berpotensi mengalami adiksi hingga kesulitan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Penggunaan gadget secara berlebihan juga disebut dapat memicu tantrum ketika handphone diambil, seperti mudah marah, melempar barang, hingga mengalami perubahan perilaku akibat terlalu nyaman berada di dunia digital.
“Karena itu, kami berharap orang tua diminta terus belajar mengenai pola pengasuhan dan digital parenting agar dapat mendampingi anak secara tepat di era teknologi saat ini,” ujarnya.